Penurunan Ekspor bukan karena Rupiah Menguat

Fathia Nurul Haq
17/10/2016 18:15
Penurunan Ekspor bukan karena Rupiah Menguat
(ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

SEPANJANG September, nilai tukar rupiah mengalami apresiasi terhadap mata uang tiga negara mitra dagang utama, juga terhadap mata uang Eropa.

Apresiasi rupiah tersebut ikut memengaruhi neraca perdagangan nasional lantaran barang impor cenderung lebih murah sedangkan barang ekspor menjadi lebih mahal.

"Tetapi faktor yang memengaruhi ekspor suatu negara ada banyak. Bayangannya saya dampaknya tidak terlalu besar (terhadap ekspor), penguatannya (kurs rupiah) tipis kok," ucap Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (17/10).

Berdasarkan data yang dihimpun BPS di tempat penukaran uang seluruh Indonesia, selama September lalu rupiah menguat 2,27% terhadap dolar AS dengan level tertinggi pada minggu keempat yakni Rp12.937 per US$.

Terhadap dolar Australia, rupiah menguat 0,73% di angka Rp9.868 per AU$ dan terhadap yen Jepang, rupiah menguat 0,38% di angka Rp128 per yen Jepang.

"Rupiah juga terapresiasi 2% terhadap euro selama September dengan level tertinggi rata-rata nasional Rp14.502 per euro," lanjut pria yang akrab didapa Kecuk tersebut.

Keempat negara dan benua tersebut merupakan mitra dagang terbesar Indonesia. Namun, Kecuk menampik penurunan volume dan nilai ekspor Indonesia saat ini disebabkan perkasanya nilai tukar.

"Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain pertumbuhan ekonomi global masih lemah, harga komoditas belum membaik, sehingga perlu diversifikasi produk ekspor, dan membuka peluang (ekspor) di negara lain," ujarnya. (Fat)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya