Wonderbag, Alat Masak Solusi Atasi Kemiskinan

MI
17/10/2016 08:15
Wonderbag, Alat Masak Solusi Atasi Kemiskinan
(MI/Seno)

SIAPA sangka memasak punya andil pada buruknya kondisi finansial sebuah keluarga. Hal itu terjadi di pedalaman Afrika.

Sebagian besar ibu rumah tangga harus memasak dengan cara tradisional sehingga memakan waktu lama. Mereka harus mengerjakannya selangkah demi selangkah mulai mengumpulkan dan memotong-motong kayu bakar, menyalakan api, hingga pada akhirnya masuk ke proses memasak. Seluruh rangkaian kegiatan itu setidaknya butuh waktu lebih dari 8 jam.

Memasak, suatu hal yang seharusnya bisa dilakukan dengan mudah, di belahan bumi lain ternyata menjadi pekerjaan yang sangat menyita waktu kaum perempuan.

"Waktu adalah satu hal yang membuat masyarakat di pedalaman tidak bisa lepas dari kemiskinan," ujar seorang pengusaha sosial Sarah Collins seperti dilansir CNN Money, akhir pekan lalu.

Dengan menghabiskan begitu banyak waktu di dapur, ungkapnya, mereka tidak bisa keluar dan mencari pendapatan tambahan untuk keluarga.

Sebuah gagasan atas keprihatinan tersebut pun muncul. Pada 2008, Collins berhasil menciptakan Wonderbag, sebuah alat masak yang terbuat dari polycotton dan busa daur ulang dengan kelebihan memiliki daya penyimpan panas. Alat tersebut juga tidak memerlukan gas atau listrik yang jelas sangat sulit dicari di daerah pedalaman.

"Mereka hanya perlu meletakkan bahan-bahan masakan ke dalam sebuah pot dan menaruhnya di atas api hingga panas atau mendidih," terangnya.

Setelah itu, pot tersebut dimasukan ke Wonderbag dan ditutup rapat. "Lama waktunya bisa 1 hingga 12 jam, tergantung apa yang dimasak."

Namun, Wonderbag punya keunggulan yang tidak dimiliki kayu bakar biasa. "Selagi menunggu matang, mereka bisa pergi keluar mencari penghasilan tambahan," ucap perempuan 47 tahun itu.

"Anak-anak yang tadinya harus membantu orangtua mencari banyak kayu bakar juga bisa kembali ke sekolah." Selain itu, lanjutnya, Wonderbag juga tidak menimbulkan polusi udara.

Pada tahap awal, Collins mendistribusikan 500 Wonderbag kepada keluarga-keluarga di pedalaman Afrika Selatan. "Saya melihat adanya perubahan di dalam komunitas itu hanya dalam waktu tiga bulan."

Hingga kini, ia telah menjual atau mendonasikan lebih dari 1 juta Wonderbag ke wilayah Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Utara.

"Untuk produksi yang dikomersialkan, kami banderol US$25-US$30 (sekitar Rp325 ribu-Rp339 ribu). Sebagian hasil dari penjualan itu digunakan kembali membuat Wonderbag untuk diberikan kepada keluarga yang membutuhkan." (Pra/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya