Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
RASIO kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) industri perbankan hingga Agustus 2016 masih dalam tren meningkat, dengan posisi 3,2% atau naik dari 3,16% di Juli 2016.
Tren naiknya NPL yang semula ditaksir hanya berlangsung selama paruh pertama 2016 itu terus berlanjut lantaran industri komoditas belum menunjukkan perbaikan performa kredit.
"NPL itu kan sisa 2015. Terutama datang dari sektor pertambangan dan terkait dengan pertambangan, misal sewa-menyewa alat berat, transportasi, dan sebagainya, karena ada beberapa sektor yang perburukannya berlanjut," jelas Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad dalam satu seminar di Jakarta, medio pekan lalu.
Rasio NPL sebenarnya sempat membaik pada Juni ketika turun dari 3,11% pada bulan sebelumnya menjadi 3,05%.
"Yang penting bank sudah membentuk pencadangan yang memadai karena sebetulnya NPL net 1,4% dan tidak berubah 3%-4%. Jadi lihat itu saja karena NPL ini sudah cover cadangan yang mencukupi. CAR sudah 23%, jadi tinggi sekali kapasitas mengabsorb industri nasional," lanjut Muliaman.
Tingginya rasio kredit seret mendorong sebagian besar bank fokus merestrukturisasi kredit. Menurut Ketua Banker Association of Risk Management (BARA) Siddik Badruddin, fokus itulah yang membuat ekspansi kredit tahun ini tidak terlalu agresif kendati otoritas moneter sudah gencar melonggarkan suku bunga acuan.
"Kita fokus restrukturisasi kredit bermasalah itu. Ini tergantung seberapa cepat recovery ekonomi. Itu pun tergantung global economy, demand dari Tiongkok," ucap Siddik dalam acara sama.
Dirut Bank Panin Syariah Denny Hendrawati mengatakan, untuk menyiasati risiko NPL, pihaknya menekan penyaluran pembiayaan untuk sektor komoditas. Menurut Denny, Panin Syariah cenderung konservatif dengan menyalurkan pembiayaan hanya untuk sektor yang didukung pemerintah, yakni infrastruktur dan pendukungnya.
Triwulan IV
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara mengatakan pihaknya masih melihat peluang untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan. Di samping suku bunga, BI pun telah merelaksasi kebijakan makroprudensialnya, seperti rasio uang muka untuk kredit pemilikan rumah.
"Tentunya dengan selalu melihat dinamika perekonomian yang terjadi," kata Mirza dalam diskusi di Tokyo, Jepang, pekan lalu.
Ia mengakui, saat ini pertumbuhan kredit perbankan belum optimal. Namun, pada 2017 BI optimistis ada potensi peningkatan seiring dengan mulai terjadinya pemulihan harga komoditas.
Sementara itu, Survei Perbankan Bank Indonesia Triwulan III 2016 yang melibatkan 41 bank umum menyimpulkan pertumbuhan kredit sepanjang 2016 diprediksi hanya 9,2%. Itu lebih rendah dari estimasi sebelumnya, 10,6%.
Hingga triwulan III 2016, sebagian responden melihat kredit baru yang disalurkan bank tumbuh melambat. Namun, mereka optimistis kredit baru akan meningkat pada triwulan IV. Faktor pendorongnya antara lain pemulihan ekonomi, realisasi penurunan suku bunga kredit, dan likuiditas yang melonggar.(Ant/RO/E-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved