Ketimpangan Akut Sektor Hulu dan Hilir Baja

MI
12/10/2016 09:13
Ketimpangan Akut Sektor Hulu dan Hilir Baja
()

CITA-CITA pemerintah untuk menumbuhkan kapasitas industri besi baja hingga memenuhi proyeksi kebutuhan 27 juta ton pada 2020 harus diimbangi dengan pertumbuhan yang imbang antara hulu dan hilirnya. Ketimpangan kapasitas di hulu dengan kebutuhan di hilir saat ini terlalu tinggi.

Data Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) menyebutkan kapasitas industri rolling mill tahun lalu mencapai 15,5 juta ton per tahun. Namun, industri hulunya, yakni pembuatan besi, hanya berkapasitas 4,5 juta ton dan baja 9,2 juta ton. "Itu membuat industri baja nasional sangat bergantung pada impor barang setengah jadi seperti slab, billet, dan bloom.

Di sisi lain, tingkat teknologi dan kapasitas pabrik umumnya pada skala relatif kecil," ungkap Basso Datu Makahanap dari Komite Standardisasi dan sertifikasi IISIA saat jumpa pers di Jakarta, kemarin (Selasa, 11/10).

Menurut kalkulasi Basso, untuk memenuhi target pemerintah yakni mendongkrak kapasitas rolling mill menjadi 20 juta ton per tahun, dibutuhkan tambahan kapasitas crude steel 10 juta ton per tahun. "Rolling mill ini demandnya besar, untuk pengecoran, jalan, jembatan. Belum lagi untuk industri turunannya seperti baja ringan, kaleng. Kapasitasnya sekarang baru 4,5 juta ton per tahun.

" Mirip dengan situasi pada industri besi, baja juga menghadapi tantangan serupa. Industri dengan kapasitas 9,2 juta ton itu diharapkan dapat memasok kebutuhan baja domestik yang tahun ini ditaksir tumbuh 3,5%-7% menjadi 14,5 juta-15 juta ton.

Di sisi lain, prospek industri baja masih moncer dengan gencarnya pembangunan infrastruktur pemerintah. Menurut Managing Director Messe Dusseldorf Asia Gernot Ringling, faktor pendorongnya ialah kewajiban penggunaan baja lokal 50% dari kebutuhan di 2016 yang naik 40% dari kebutuhan di 2015.

Ketua Umum Gabungan Pengerjaan Logam dan Medin Indonesia Dadang Asikin menyarankan industrialis sektor besi dan baja mengupayakan substitusi impor mereka agar perlahan mandiri. "Caranya dengan membuat blueprint di sana lalu difabrikasi sendiri," ucapnya.(Fat/Adi/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya