Kimia Farma Bangun Industri Bahan Baku Obat

Fetry Wuryasti
11/10/2016 08:08
Kimia Farma Bangun Industri Bahan Baku Obat
()

PT Kimia Farma Tbk mulai membangun pabrik bahan baku obat di Tanah Air. Pembangunan pabrik itu diwujudkan lewat PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia, hasil joint venture BUMN itu dengan produsen farmasi asal Korea Selatan, Sungwun Pharmacopia Co Ltd.

Direktur Utama PT Kimia Farma Rusdi Rosman mene-rangkan, pada tahap awal, pabrik tersebut akan memproduksi delapan jenis bahan baku obat aktif (active pharmaceutical ingredient/API) dengan total kapasitas produksi 30 metrik ton per tahun. Produksi delapan bahan baku obat tersebut dilakukan untuk memenuhi 100% kebutuhan seluruh industri farmasi di Indonesia dan selebihnya untuk pasar ekspor.

Selain itu, diproduksi juga tujuh macam high function chemical (HFC) untuk bahan baku kosmetik dan suplemen dengan kapasitas 150 metrik ton per tahun. Hasil produk akan diekspor ke Korea, Jepang, dan Amerika. Dalam 10 tahun mendatang, pabrik tersebut diharapkan mampu memenuhi separuh dari kebutuhan bahan baku obat di Tanah Air.

“Investasi tahap awal ini hanya Rp135 miliar, di luar tanah, karena baru 5.000 meter persegi. Pada 2017, pabrik akan selesai dibangun, dan 2018 sudah bisa produksi. Total ada lebih dari 40 bahan baku obat yang antre untuk diproduksi,” katanya dalam acara groundbreaking pabrik di Cikarang, Bekasi, kemarin (Senin, 10/10). Sementara itu, porsi kerja sama perseroan dengan investor Korsel berupa saham ialah 70:30.

Pemilihan Sungwun sebagai mitra dilakukan lantaran dari 2.200 item bahan baku obat yang dibutuhkan Indonesia, teknologi pembuatan untuk sekian puluh jenisnya dikuasai Korsel. Sungwun juga memberikan kesempatan untuk alih teknologi dan memungkinkan tenaga ahli Kimia Farma belajar langsung di ‘Negeri Gingseng’ itu.

Di masa depan, Kimia Farma akan mencari lagi mitra dari negara lain yang menguasai teknologi bahan baku obat yang dibutuhkan Indonesia.

Swasembada
Menteri Kesehatan Nila F Moeloek yang turut hadir mengatakan tumbuhnya pabrik bahan baku obat menjadi awal yang diharapkan pemerintah untuk merealisasikan road map industri farmasi Tanah Air. Selama ini 95% obat Indonesia ialah hasil impor. “Obat selama ini hampir semua berasal impor dari India dan Tiongkok. Bila terus bergantung pada impor, Indonesia akan tidak punya obat kalau negara pemasok menarik obat-obat mereka. Karena itu, kita harus bisa produksi bahan baku obat sendiri,” ujarnya.

Ketua Komisi IX Dede Yusuf menambahkan sudah seha-rusnya obat-obatan bagi 10 penyakit dasar orang Indonesia diproduksi di dalam negeri. Selama masih mengimpor obat, negara harus menyiapkan biaya untuk obat, terutama untuk JKN.

“Pemerintah tiap tahun menganggarkan Rp2 triliun untuk belanja obat. Kalau harga bisa ditekan dengan punya bahan baku sendiri, volume jangkauan bisa lebih besar lagi sehingga tidak lagi ada istilah kosong obat.”

Dalam tata kelola selama ini, imbuh Dede, terkadang ada kekosongan obat akibat proses tender yang memakan tiga bulan. Setelah itu, obat dipesan dari luar negeri dan baru datang setelah 1-2 bulan. Proses panjang itu membuat obat yang ada keburu habis.

“Sisi regulasi sudah kami diskusikan, salah satunya obat tidak boleh dikategorikan sebagai pajak barang mewah,” tutupnya. (Ant/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya