Rp165 Triliun Mengalir Masuk

Fathia Nurul Haq
08/10/2016 10:37
Rp165 Triliun Mengalir Masuk
(Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara--ANTARA/Adiwinata Solihin)

BANK Indonesia (BI) mencatat adanya kenaikan aliran dana asing ke pasar finansial dalam negeri (capital inflow) sepanjang tahun ini berjalan. "Capital inflow yang masuk Rp165 triliun secara year to date," ujar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara di Gedung BI, Jakarta, kemarin (Jumat, 7/10).

Menurut dia, mengalirnya dana asing ke Indonesia sejak awal tahun telah membuat tren cadangan devisa terus menebal. Per akhir September, cadangan devisa mencapai US$115,7 miliar, atau naik US$2 miliar dari bulan sebelumnya.

"Tapi itu capital inflow yang dari pelaku pasar. Yang dari repatriasi amnesti pajak masih kita tunggu sekitar Rp139 triliun. Itu masih diperkenankan masuk sampai Desember. Jadi yang terkait dengan amnesti pajak masih ditunggu realisasinya," jelas Mirza.

Padatnya modal masuk ke Indonesia juga, kata dia, disebabkan pergerakan suku bunga The Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat, yang sejak beberapa waktu terakhir telah mudah diprediksi.

Sementara itu, lembaga Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), kemarin, merilis laporan Asia and Pacific Regional Economic Outlook Update (REO Update) periode Oktober 2016.

Dalam laporan tersebut, IMF mewanti-wanti berlanjutnya kebijakan moneter nonkonvensional yang dimanfaatkan negara-negara maju untuk mengangkat pertumbuhan mereka akan menciptakan sejumlah risiko bagi negara-negara berkembang (emerging market).

Risiko-risiko itu, menurut IMF, antara lain ekses likuiditas global dan banjir capital inflow di negara-negara berkembang. Kondisi tersebut akan menciptakan apresiasi atau penguatan kurs lokal yang berlebihan.

Lembaga berbasis di Washing-ton DC, AS, itu secara khusus menyoroti faktor suku bunga The Fed. Kepanikan pasar dalam merespons penaikan berikutnya atas suku bunga The Fed, yang diestimasi pada Desember mendatang, akan mengarah kepada minggatnya arus modal dari negara-negara berkembang, diikuti gejolak harga-harga aset.

"Faktor ini penting mengingat ketergantungan kondisi perekonomian regional (Asia Pasifik) terhadap faktor global seperti suku bunga AS makin meningkat," ujar IMF.

Peluang reli
Sementara itu, kurs rupiah, kemarin, kembali ke kisaran 13 ribu per dolar AS. Adapun indeks harga saham gabungan (IHSG), kemarin, ditutup turun 32,19 poin seiring dengan berlanjutnya aksi lepas saham oleh investor asing ke level 5.377,14.

Alpari Market Research and Analyst, Rino Purbono, mengatakan, secara teknis, IHSG sedang melemah setelah menyentuh resisten harian di level harga 5474.307. IHSG berpotensi turun menuju kisaran harga 5295.252.

"Jika harga tidak berhasil menembus ke bawah level harga 5295.252, itu akan membuat potensi para pelaku pasar untuk melakukan aksi beli. Penguatan IHSG yang masih bisa dicapai menuju kisaran harga 5533.414 sebelum koreksi kembali," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Namun, peluang IHSG reli pada kuartal IV tetap terbuka seiring meningkatnya dana repatriasi dari program amnesti pajak. Dana itu akan difokuskan untuk pembangunan infrastruktur dan pembangunan ekonomi yang lebih baik.

Perusahan-perusahan yang akan mendapat porsi dana repatriasi, yaitu perbankan, perusahaan konstruksi, dan perumahan. Mereka berperluang membukan keuntungan lebih tinggi."Potensi itu akan membawa IHSG menguat dan reli."(Ant/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya