Masyarakat masih Tahan Belanja

Fathia Nurul Haq
07/10/2016 10:40
Masyarakat masih Tahan Belanja
(ANTARA)

MENGAKHIRI triwulan III tahun ini, masyarakat Indonesia ternyata masih memilih untuk menahan belanja. Hal itu tampak dari hasil Survei Konsumen Bank Indonesia September 2016 yang menunjukkan penurunan porsi belanja dan pembayaran cicilan utang dalam pembagian pos pendapatan rumah tangga masing-masing 0,5% dari porsi bulan lalu.

"Porsi pendapatan responden yang digunakan untuk konsumsi menjadi 70,4% dan porsi pembayaran cicilan pinjaman terhadap pendapatan menjadi 11,9%," jelas Direktur Eksekutif Departemen Statistik Bank Indonesia Hendy Sulityowati dalam bincang-bincang media di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta, kemarin.

Sebagai imbasnya, masyarakat meningkatkan porsi tabungan dari pendapatan sebesar 1,1% menjadi 17,8%. Meski begitu, masyarakat tetap pesimistis jumlah tabungan mereka meningkat di masa mendatang.

Penyebabnya ialah menurunnya indeks penghasilan ataupun ekspektasi penghasil-an lantaran penciptaan lapangan kerja dianggap masih terlalu sedikit. Faktor lain ialah melemahnya daya beli masyarakat yang mengerek turun realisasi penjualan barang tahan lama, seperti furnitur, perlengkapan elektronik, juga perlengkapan rumah tangga.

Hasil survei itu juga menyebutkan konsumen memperkirakan tekanan kenaikan harga akan meningkat pada Desember 2016, yang tecermin dari indeks ekspektasi harga (IEH) tiga bulan mendatang yang naik 17,6 poin menjadi 168,7.

Situasi itu menekan indeks keyakinan konsumen (IKK) turun 3,3 poin menjadi 110 ketimbang di Agustus 2016. Meski demikian, IKK rata-rata di triwulan III 2016 mencapai 112,5 atau naik tipis dari 111,6 poin pada triwulan II 2016. "Dengan kenaikan IKK (secara triwulanan), lazimnya konsumsi rumah tangga juga naik," ujar Hendy.

Konsumsi rumah tangga ialah penyumbang terbesar dalam pembentukan produk domestik bruto dengan kontribusi 55,9%.

Masih teka-teki
Pertumbuhan konsumsi yang masih tertahan juga menjadi salah satu faktor melambatnya pertumbuhan kredit perbankan. Per Juli, kredit perbankan melaju 7,6% (year on year/yoy). Tergolong rendah ketimbang bulan-bulan sebelumnya yang masih bisa mencapai kisaran 8% (yoy).

Dirut BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan perlambatan itu amat mungkin masih berulang pada triwulan ini. "Disburstment kredit untuk Agustus memang sedikit naik, tapi belum bisa menutup pengembalian pada Juni yang melonjak akibat Lebaran. Kredit September itu diharapkan sama dengan posisi Juni, tapi kalau untuk kuartal IV masih teka-teki," terangnya dalam kesempatan terpisah di Jakarta, kemarin.

Ia menambahkan, ada kemungkinan pengusaha yang melakukan repatriasi akan mendapat tambahan ekuitas yang memacu timbulnya likuiditas 'menganggur' di perusahaan. Hal itu bisa mendorong pengusaha mengembalikan pinjaman sehingga justru bisa berdampak negatif bagi bank dari segi pertumbuhan kredit.

"Ini yang belum kita bisa baca seberapa besar pengaruhnya bagi kredit. Tapi saat ini sudah ada beberapa nasabah yang mengungkapkan akan memasukkan ekuitas sehingga karena dana mereka berlebih, mereka akan melunasi kredit.

" Dalam kesempatan sama, Dirut BRI Asmawi Syam lebih optimistis soal pertumbuhan kredit tahun ini, khususnya pada segmen mikro. Estimasi Asmawi, kredit mikro bisa tumbuh di atas 17% untuk keseluruhan 2016. (Dro/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya