RNI Garap Biofuel dari Rumput Gajah

Tesa Oktiana Surbakti
07/10/2016 10:35
RNI Garap Biofuel dari Rumput Gajah
(Ist)

PT Rajawali Nusantara Indonesia (persero) bersama PT Pertamina (persero) dan Toyota Motor Corporation mengembangkan biomassa rumput gajah (Napier grass) sebagai bahan baku biofuel.

Direktur Utama PT RNI Didik Prasetyo pada panen pertama rumput gajah RNI di Majalengka, Jawa Barat, mengatakan di tengah semakin menipisnya cadangan energi fosil dunia, ketergantungan terhadap bahan bakar fosil harus mulai dikurangi sedikit demi sedikit. Oleh karena itu, pengembangan energi terbarukan sudah menjadi keharusan yang tidak dapat ditunda.

"Sebagai BUMN dengan bisnis inti agroindustri, PT RNI berupaya berperan aktif dalam pengembangan energi terbarukan yang berbasis perkebunan, salah satunya melalui pemanfaatan biomassa yang dihasilkan dari rumput gajah menjadi biofuel," ungkap Didik dalam keterangan resmi, kemarin (Kamis, 6/10).

Didik menuturkan sebagai langkah awal, sejak 2015 Pusat Penelitian Agro milik PT PG Rajawali II Cirebon telah menyiapkan lahan seluas 7 ha di HGU PG Jatitujuh, Majalengka, untuk keperluan riset pengembangan tanaman yang berpotensi sebagai sumber energi. Kandungan biomassa tinggi sehingga cocok digunakan sebagai salah satu bahan pembuat biofuel.

Agar pengembangan biofuel itu berkelanjutan, baik dari sisi pasokan bahan baku, riset, pengembangan, maupun kebermanfaatan, digagaslah kerja sama kemitraan strategis antara PT RNI, PT Pertamina, dan Toyota Motor Corporation.

"Pembicaraan kerja sama yang dimulai pada 2015 dan ditandai penandatanganan MoU di awal 2016 ini telah menuai hasil dengan panen perdana rumput gajah, ke depan akan dilakukan riset lebih lanjut," paparnya.

Joint venture
PT Pertamina (persero) dan Rosneft membentuk perusahaan gabungan (joint venture company/JVC) untuk memuluskan pembangunan Kilang Grass Root Refinery (GRR) Tuban. Komposisi kepemilikan saham dalam JVC, Pertamina menjadi pemilik saham mayoritas 55% dan Rosneft 45%.

"Langkah ini merupakan tindak lanjut dari MoU yang sudah ditandatangani. Yang penting ada perusahaan joint venture-nya. Memang masih ada yang pending, tetapi tentu bagaimana hasil bankable feasibility study-nya serta masalah pricing dan sebagainya," ujar Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto seusai rapat dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (5/10).

Sejauh ini, pengembangan proyek Kilang Tuban menyasar studi kelayakan dasar (basic feasibility study). Selain BFS, hal lain yang memengaruhi keputusan investasi akhir (final investment decision), termasuk basic engineering design (BED) dan front end engineering design (FEED).

Pasokan minyak (crude) yang diolah kilang berkapasitas 15 juta MTA meliputi jenis medium dan heavy sour. Proyek Kilang Tuban dikembangkan untuk konstruksi catalytic cracker bahan bakar minyak berkapasitas besar, serta kompleks petrokimia. Harapannya, kilang tersebut mampu menampung VLCC Super Tanker dengan bobot mati hingga 30 ribu ton. (E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya