Tetap Gemilang di Tengah Kampanye Hitam

04/10/2016 00:00
Tetap Gemilang di Tengah Kampanye Hitam
(ANTARA)

HAMBATAN dari berbagai pihak tidak menyurutkan kegemilangan produk minyak kelapa sawit (CPO) Indonesia di Eropa.

Volume ekspor minyak nabati ke 'Benua Biru' tersebut terus meningkat setiap tahunnya.

"Di tengah berbagai isu menyangkut sawit di Eropa, ternyata ekspor terus meningkat. Jadi daya saing kita masih kuat di tengah berbagai masalah yang terjadi," ucap Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit Bayu Krisnamurthi di Jakarta, Senin (3/10).
Menurutnya, jumlah ekspor CPO sejak Januari-Agustus 2016 mencapai 4,35 juta ton.

Hingga akhir 2016, realisasi ekspor diprediksi bakal lebih tinggi ketimbang total 2015 sebesar 5,3 juta ton.

"Sepanjang tahun ini, ekspor produk kelapa sawit ke Eropa mencapai 5,8 juta-6 juta ton. Pada 2012, ekspor produk kelapa sawit ke Eropa mencapai 3,65 juta ton, lalu naik menjadi 4,8 juta ton pada 2013, dan 5,07 juta ton pada 2014," paparnya.

Kenaikan itu pun ditengarai disebabkan makin luasnya pasar ekspor tahun ini.

Pada tahun lalu, kata Bayu, ekspor produk kelapa sawit hanya mencakup 13 negara, sedangkan saat ini menembus 26 negara di Eropa.

"Belanda masih menempati posisi pertama importir terbesar sawit Indonesia dengan 1,7 juta ton selama Januari-Agustus 2016. Diperkirakan juga, 70% sawit yang masuk ke Belanda itu diekspor ke negara Eropa lainnya," tukas Bayu.

Ia meyakini CPO Indonesia masih unggul ketimbang produk minyak nabati lainnya meski Uni Eropa sering membuat kampanye hitam tentang kelapa sawit.

Salah satunya, wacana pajak progresif hingga 300% untuk produk sawit di Prancis yang akhirnya dibatalkan parlemen negara tersebut.

"Indonesia dan Argentina berhasil meyakinkan pengadilan Uni Eropa untuk membatalkan penetapan anti dumping duty EU untuk biodiesel pada 16 September 2016. Kita sudah berhasil membuktikan harga sawit kita bukan dumping, melainkan karena ada daya saing yang tinggi. Namun, dua kasus itu masih bisa diangkat Eropa," papar Bayu.

Selain itu, dalam perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership (IEU-CEPA), keberlanjutan kelapa sawit menjadi salah satu bahan pembahasan yang serius.

Pasalnya, kedua belah pihak belum sepakat tentang definisi keberlanjutan dalam produk kelapa sawit.

Karena itu, meski pasar ekspor terlihat masih berpotensi meningkat, pemerintah dan BPDP Sawit berencana terus melakukan diplomasi di Uni Eropa.

"Pada Januari-Agustus ini, total ekspor ke seluruh negara 18,98 juta ton. Kita harap terus naik, apalagi tahun depan," imbuh Bayu. (Jes/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya