Merajut Tas demi Masa Pensiun

03/10/2016 08:00
Merajut Tas demi Masa Pensiun
(Ilustrasi)

TAS rajutan berbagai model ditata rapi di kios pameran itu.

Susanah, selaku pemilik usaha, berusaha menata seapik mungkin agar bisa menarik minat pengunjung untuk melihat.

Rajut Zaidan, begitulah wanita 45 tahun itu menamakan produk usahanya.

Kendati hasil produknya tampak memikat, seolah-olah digarap oleh seorang yang lama menekuni bidang tersebut, Susanah merendah mengaku masih belajar untuk menjadi pengusaha.

Maklum, sejatinya perempuan ini masih aktif menjadi karyawan di PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk.

Dia kini bahkan masih menjabat sebagai ketua kelompok penggiling rokok di salah satu pabrik Sampoerna di Jawa Timur.

Walau usaha ini masih terhitung sampingan, kelak Susanah mengaku akan lebih serius menekuni usahanya tersebut.

Terlebih perusahaannya mendukung agar karyawan mulai belajar berwiraswasta untuk mempersiapkan masa pensiun.

Sampoerna memang mempunyai program agar karyawannya mulai merintis usaha menjelang masa pensiun.

Susanah misalnya, mulai merintis membangun usaha kerajinan ini lima tahun lalu dengan modal awal sekitar Rp200 ribu.

Awalnya, dia bingung mau membuka usaha apa.

Namun, melalui Pusat Pembinaan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna, Susanah mengikuti pelatihan kewirausahaan mulai dari cara produksi, manajemen usaha, hingga pemasaran.

Berkat bimbingan itu, dia memilih untuk memilih bisnis kerajinan.

Perlahan usahanya yang masih seumuran jagung perlahan mulai berkembang.

"Awalnya tidak bisa merajut, kemudian belajar karena beberapa tahun ini sedang tren lagi usaha jenis rajutan," terang dia, saat ditemui di PPK Sampoerna Expo di Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (1/10).

Memang, saat ini omzet penjualan kerajinan tas rajutan yang dimilikinya masih berkisar Rp1,5-Rp3 juta per bulan.

Maklum, kendati di rumah sudah buka toko, kebanyakan penjualan justru berasal dari pameran-pameran.

Kendati demikian, beberapa produknya sudah ada yang diekspor.

"Ada yang pesen dari Inggris dan Mesir, tapi itu juga masih dari mulut ke mulut melalui teman yang pesan," terangnya.

Ditemui di lokasi pameran, President Director HM Sampoerna, Paul Janelle, mengaku memang mendorong karyawannya untuk membuka usaha demi topangan hidup di masa pensiun kelak.

Hal ini merupakan, sambung dia, bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (corporate sosial responsibility/CSR).

Di samping membantu para pegawai mempersiapkan masa pensiun, program mencetak pengusaha ini juga mendukung pengembangan perekonomian dari sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Menurut Janelle, perseroannya komit mendukung pertumbuhan UMKM di dalam negeri agar terus berkembang.

Apalagi, pemerintah menargetkan 2% pertumbuhan UMKM.

Namun, jumlah UMKM yang ada sekarang masih kurang dari itu.

HM Samoerna yakin dengan program CSR untuk pemberdayaan UMKM miliknya, jumlah pertumbuhan UMKM pada 2018 bisa mencapai 3%. (Adhi Muhammad Daryono/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya