Pertamina Gandeng Repsol Produksi TDAE

Tesa Oktiana Surbakti
30/9/2016 09:51
Pertamina Gandeng Repsol Produksi TDAE
()

PT Pertamina (persero) menggangdeng perusahaan minyak asal Spanyol, Repsol, untuk membangun pabrik treated distillate aromatic extract (TDAE).

Pabrik berkapasitas 60 ribu ton per tahun dengan investasi US$80 juta tersebut akan memproduksi bahan baku utama industri ban dan karet yang saat ini bergantung pada pasokan impor.

"Pabrik TDAE akan dibangun di area Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah. Bahan baku TDAE ini ialah minarex yang diproduksi Kilang Cilacap yang telah memenuhi unsur ramah lingkungan," ujar Vice President Corporate Communication of Pertamina Wianda Pusponegoro di Jakarta, kemarin (Kamis, 29/9).

Kilang Cilacap mampu memasok minarex hingga 115 ribu ton per tahun untuk pabrik yang ditargetkan beroperasi pada 2019 itu.

Wianda menambahkan, perjanjian kerja sama sudah diteken pekan lalu. Selanjutnya akan dibentuk perusahaan gabungan yang sahammnya mayoritas dikuasai Pertamina. Pangsa pasar dari produk yang dihasilkan lebih menyasar wilayah Asia Tenggara. "Produknya untuk kedua belah pihak, Pertamina memiliki peluang masuk ke pasar yang digarap Repsol dan sebaliknya."

Lebih jauh Wianda memaparkan fokus perseroan masih menjadikan bisnis hulu migas sebagai tulang punggung usaha. Untuk itu, pada 2025, Pertamina menargetkan migas mencapai 1,9 juta barel setara minyak per hari (mboepd) dari sumur yang sudah ada di dalam dan luar negeri.

Saat ini, lewat anak usaha PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP), sejumlah aset migas di Aljazair, Irak, dan Malaysia mampu berproduksi 120,6 mboepd, 15% di atas target Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2016 sebesar 102,4 mboepd.

Selain itu, pascamengakuisisi 24,53% saham Maurel & Prom (M&P), Pertamina tengah menjajaki blok potensial milik perusahaan asal Prancis yang menyebar di Eropa, Afrika, dan Asia Tenggara itu. Pertamina juga telah mengevaluasi data 30 blok migas nasional yang akan habis masa kontrak pada 2025 untuk diakuisisi.

Harga BBM masih wajar
Terkait dengan rencana pemerintah untuk menurunkan harga BBM jenis premium sebesar Rp300 per liter dan menaikkan harga solar Rp600 per liter untuk periode 1 Oktober-31 Desember 2016, Pertamina memastikan segera mengikuti perubahan harga itu.

"Mengacu pada publikasi MOPS (mean of plats Singapore) yang jadi acuan pasar, harga BBM itu dalam posisi wajar," ujar Wianda.

Namun, pihaknya meminta pemerintah membuat kebijakan mempertajam posisi peruntukan premium. "Pertamina tidak berhak menghapus premium, itu penugasan. Kami pertahankan stok premium 17 hari. Namun, pemerintah harus memiliki rencana premium di masa depan, karena konsumsinya memang turun," jelasnya.

Sementara itu, pengusaha logistik dan transportasi mempertimbangkan penaikan tarif 4%-5% sebagai antisipasi harga baru solar yang berkontribusi 30%-40% dari biaya produksi.

"Kalau solar naik Rp600 per liter, biaya tranportasi naik 5%," ujar Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia Zaldy Ilham Masita, kemarin.

Senada, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Apterindo) Gemilang Tarigan mengatakan pihaknya juga akan menaikkan tarif 4%.(E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya