Rupiah Turun, Petani Tersenyum

Iqbal Musyaffa
02/9/2015 00:00
Rupiah Turun, Petani Tersenyum
()
SIAPA bilang pelemahan rupiah saat ini hanya menguntungkan masyarakat yang berpenghasilan dolar saja? Petani kedelai justru menikmati manfaat dari penurunan nilai tukar.

Sesuai data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, harga kedelai impor berada di level Rp7.800 per kilogram. Angka tersebut naik dari sebelumnya sekitar Rp6.000/kg.

Kenaikan harga komoditas yang didatangkan dari Amerika Serikat itu dipicu oleh penguatan dolar. Saat ini nilai mata uang ‘Negeri Paman Sam’ itu ialah 14.081 per dolar AS, naik 13,5% sejak awal tahun ini.

Kondisi itu turut mendongkrak permintaan terhadap kedelai lokal. Implikasinya ialah peningkatan harga bahan baku tempe dan tahu yang dibuat di dalam negeri itu.

Berdasarkan pemantauan Media Indonesia, harga kedelai di sejumlah daerah mulai bergerak naik. Di Cirebon dan Bandung, kedelai dipasarkan di angka Rp7.000 /kg dan Rp11.000/kg. Kemudian di Kupang, kedelai dijual senilai Rp12.000/kg.

"Kondisi saat ini bagus untuk kedelai lokal karena harga kedelai impor sedang mahal. Harga kedelai lokal bisa terdongkrak naik, maka akan menguntungkan petani," ujar Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Hasil Sembiring di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Terlebih, lanjut dia, pelaku usaha tani tengah panen raya. Sesuai angka ramalan I Badan Pusat Statistik (BPS), volume produksi kedelai domestik dapat mencapai 978 ribu ton, atau 42,5% dari total kebutuhan nasional yang sebesar 2,3 juta ton.

Peningkatan harga itu, imbuh Hasil, dapat menggairahkan para petani untuk meningkatkan produksi mereka ke depan. Pasalnya, mereka selama ini enggan menanam kedelai karena rendahnya harga jual.

Ia menyebutkan kedelai lokal sempat ditawarkan di bawah Rp6.000/kg, di bawah harga beli petani (HBP) yang sebesar Rp7.700/kg. Bahkan, di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, harga kedelai hanya Rp4.500/kg.

"Petani kedelai lokal siap meningkatkan produksi kedelai lokal asalkan ada perbaikan harga untuk kedelai lokal sehingga masyarakat mau menanam kedelai," klaim Hasil.
Ia menyebutkan kondisi itu dapat memantik pencapaian target swasembada kedelai.

Untuk menjaga harga kedelai lokal, menurut Hasil, saat ini sedang dibicarakan mengenai HBP kedelai yang diusulkan naik ke kisaran Rp8.000/kg. Di samping itu, diusulkan lembaga yang akan melakukan penyerapan kedelai lokal itu.

Peningkatan mutu
Sementara itu, Ketua Gabung-an Produsen Tahu Tempe Indonesia Aip Syarifudin berharap pemerintah tidak hanya mendorong penyerapan kedelai lokal, tetapi juga meningkatkan kualitas produksi. Caranya dengan pengubah-an pola sistem tanam kedelai.

"Coba sistem tanam kedelai tidak tradisional. Contoh AS yang tanam secara modern sehingga hasilnya maksimal."

Aip menyebutkan sistem penanaman kedelai itu mampu meningkatkan produktivitas dari 0,8-1,5 ton per hektare menjadi 3-4 ton per hektare.

Ditemui terpisah, Wakil Ke-tua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron mengatakan parlemen meminta pemerintah untuk me-nguasai stok pangan pokok dan pangan strategis, termasuk kedelai. Selain itu, otoritas fiskal perlu memperkuat Perum Bulog sebagai stabilitator harga komoditas pokok tersebut. (UL/RS/PO/E-5)

iqbal@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya