Kereta Jenazah itu Mulai Gentayangan sejak Bulan Lalu

Adhi M Daryono/E-4
27/9/2016 07:00
Kereta Jenazah itu Mulai Gentayangan sejak Bulan Lalu
(MI/Duta)

KERETA berpenumpang jenazah nampaknya bukan lagi sekadar mitos kaum urban.

Kereta itu benar-benar ada. Bahkan hal tersebut diakui sendiri oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Namun, jangan keburu bergidik dahulu.

Kereta itu memang mengangkut jenazah.

Namun, tentu saja tidak berisi mayat hidup seperti kisah-kisah seram masyarakat di perkotaan.

Sejak Agustus lalu, PT KAI memang menerima pengantaran jenazah yang akan dikebumikan antardaerah.

Menurut Direktur Komersial dan IT PT KAI Kuncoro Wibowo, tentu saja program itu bukan bertujuan meraup untung semata-mata.

Penyediaan gerbong kereta untuk mengangkut jenazah merupakan program kemanusiaan perseroan bagi warga.

Selama ini, dengan kendaraan bermotor, proses pengiriman jenazah membutuhkan satu hingga dua hari, karena mobil pengangkut jenazah memang terbatas, dan administrasi kepengurusannya berbelit.

Kalau mau cepat, memang bisa menggunakan pesawat.

Namun, sebut Kuncoro, biayanya cukup mahal, sehingga tidak semua warga bisa menjangkau ongkos pengirimannya.

"Kalau pakai mobil lama. Pakai pesawat mahal. Memang pengiriman jenazah ke kampung asal lebih efisien menggunakan kereta api," ujar Kuncoro, di Jakarta, kemarin.

Kepada masyarakat, dia menjelaskan gerbong kereta jenazah memang dibuat terpisah jauh dengan gerbong penumpang.

"Ya, gerbongnya kita dekatkan dengan gerbong logistik. Kalau jadi satu, nanti penumpang bisa pada kabur dong," seloroh Kuncoro.

Kendati layanan ini baru 'gentayangan' sekitar satu bulan lalu, respons publik terhadap jasa terbaru perseroan itu dinilai cukup baik.

Mungkin mereka yang pernah menggunakan mempromosikan sendiri layanan ini ke kerabat atau kolega.

"Para keluarga pengguna jasa kereta jenazah mengaku puas. Mereka bahkan berterima kasih dengan adanya layanan ini. Kalau pakai ambulans, kata mereka terlalu lama."

Untuk tarif, Kuntoro memilih untuk tidak menyebutkannya.

Yang jelas, kata dia, harganya sangat kompetitif ketimbang pengiriman ke daerah dengan menggunakan pesawat.

Yang jelas, lanjut dia, harganya berbeda-beda. Pasalnya, hitungan biayanya sangat tergantung dari jarak yang harus ditempuh.

"Pokoknya, harganya spesial. Kita lebih mengutamakan sisi kemanusiaan ketimbang meraup laba bagi perusahaan," ujar Kuncoro.

Kendati respons warga umummnya positif, penggunaan gerbong kereta jenazah belum sesuai target yang telah ditetapkan perseroan.

Kuncoro menduga hal itu disebabkan belum gencarnya sosialisasi.

Artinya, produk layanan terbaru ini masih mencari pangsa pasar.

"Kita masih lihat pangsa pasarnya sejauh ini berapa," ujarnya.

Selain gerbong jenazah, PT KAI juga menjalin kolaborasi dengan General Electric (GE) Transportation untuk mengembangkan digitalilsasi kereta api.

Hal itu dilakukan untuk pengembangan efisiensi sistem kereta barang dengang menggunakan teknologi Rail Connect 360 milik GE, dan pembaharuan sistem penjualan tiket.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya