Garam di Bawah Standar, Industri Ogah Menyerap

Tes/E-4
27/9/2016 06:20
Garam di Bawah Standar, Industri Ogah Menyerap
(ANTARA/Saiful Bahri)

ASOSIASI Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) mengeluhkan tidak adanya data produksi dan kebutuhan garam nasional yang valid.

Hal itu menyebabkan industri dalam negeri kesulitan untuk menyerap produksi garam yang dihasilkan petani lokal.

"Pemerintah meminta kami menyerap garam lokal. Akan tetapi, kami tidak tahu letak garam yang dinyatakan berlebih itu," sebut Ketua Umum AIPGI Tony Tanduk, di Jakarta, kemarin.

Dia menegaskan, pengusaha sangat membutuhkan data garam yang valid.

Pasalnya, bagi industri, kontinuitas itu penting.

Data itu, lanjutnya, juga penting untuk menyikapi karakteristik produksi garam di Indonesia yang bersifat musiman.

Artinya, pemerintah harus mematangkan data resmi terkait dengan stok dan jenis garam yang tentunya mengacu pada kebutuhan.

Selain data, industri garam juga mengeluhkan kualitas garam yang ada di Tanah Air.

Menurut Tony, kualitas garam lokal belum memenuhi standardisasi kebutuhan sektor industri yang beragam.

Hal itu terlihat dari kadar natrium klorida (NaCl) di bawah 94% dengan tingkat impuritas yang tinggi.

"Karena kualitas yang belum sesuai inilah, kami masih butuh garam impor. Kontinuitas suplai dan harga garam produksi lokal juga belum bisa mendukung kontinuitas kebutuhan industri. Garam produksi lokal cenderung cocok untuk kebutuhan rumah tangga," tutur Tony.

Pengamat ekonomi Faisal Basri memahami keluhan industri garam. Menurut dia, seyogianya beban penyerapan garam jangan dibebankan kepada industri swasta.

Untuk itu, dia meminta agar pemerintah mengoptimalkan kemampuan PT Garam (persero) untuk menyerap garam lokal atau rakyat.

Faisal menegaskan, bagaimana pun juga nasib petani garam harus tetap dipertimbangkan.

Pada 2015, harga jual garam di tingkat petani mencapai Rp300-Rp400 per kilogram (kg).

Harga itu jauh dari harga acuan yang dibuat pemerintah, yakni garam kualitas I Rp750 per kg dan kualitas II Rp550 per kg.

"Kalau pun tetap impor, garam impor jangan sampai merembes di pasar domestik," tutup Faisal.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya