Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJAK era Revolusi Industri, mekanisasi pekerjaan yang tadinya digarap tenaga manusia telah dianggap sebagai simbol kemajuan suatu bangsa.
Istilah 'tinggal landas' bagi Indonesia yang sempat mengemuka di era Orde Baru juga menjadi bagian dari mimpi peningkatan status dari negara agraris menjadi negara industri.
Kisah sukses mungkin tergambar dari Korea Selatan. Untuk waktu yang lama, sejak 1960, 'Negeri Ginseng" dianggap sebagai personifikasi negara berpenghasilan rendah yang mampu mencapai pertumbuhan ekonomi yang masif melalui industrialisasi.
Proses itu dimulai dengan manufaktur low-end (pakaian, alas kaki, plastik) yang memerlukan sejumlah besar pekerja bergerak dari produktivitas pertanian yang rendah hingga untuk ekspor manufaktur yang butuh produktivitas tinggi.
Industrialisasi telah membantu menggerakkan sebuah konvergensi yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni melandainya jurang kekayaan negara kaya dan miskin. Hal itu membuat 83 negara berkembang di awal 2000-an mencapai tingkat pertumbuhan lebih dari dua kali negara anggota maju anggota OECD.
"Namun, model pembangunan ini sedang terkikis, sebagian besar disebabkan meningkatnya otomatisasi produksi industri. Apabila tidak merespons, kita berisiko melihat ketidaksetaraan global yang lebih dalam," tutur ekonom Universitas Harvard, Dani Rodrik, seperti dilansir Theguardian.com, Rabu (20/9).
Ia berpendapat industrialisasi semakin kehilangan sihir pembangunan ekonomi setelah sebagian besar negara kaya melihat penurunan dalam pangsa manufaktur di negara mereka untuk waktu yang lama. "Otomatisasi telah mengambil pekerjaan dari tenaga kerja dengan keterampilan rendah, menengah, hingga tinggi,"
Akibatnya, lanjut Rodrik, kita melihat mesin yang dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan manusia, seperti mengemudi mobil, jauh lebih cepat daripada orang yang semestinya. "Di iklim seperti saat ini, kita perlu menemukan lapangan kerja yang mempromosikan efisiensi energi, menyebar akses ke energi terbarukan, dan membuat lingkaran ekonomi kembali berputar," urainya.
Namun, inisiatif tersebut setidaknya memerlukan dana bantuan dari negara-negara maju. "Itu berarti ada pajak dari kekayaan dan pendapatan yang sangat tinggi, dan juga pajak polusi dari semua jenis polutan terutama polusi karbon," tandasnya.(E-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved