DALAM waktu dekat, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang tengah diperebutkan Jepang dan Tiongkok akan ditetapkan penggarapannya oleh pemerintah. Kalangan pelaku usaha menyambut positif proyek kereta penumpang tersebut, tapi meminta agar percepatan distribusi logistik pun diberi atensi.
"Segala sesuatu berbau cepat, kita dukung. Cuma jangan lupa, setelah penumpang, buat juga akses kereta api logistik. Sangat perlu itu," ujar Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajad kala dihubungi Media Indonesia, kemarin.
Ade menilai moda kereta sangat efektif untuk mendukung kelancaran proses distribusi logistik. Pasalnya, jalur kereta terbilang minim gangguan, seperti macet, sehingga cenderung tepat waktu. Percepatan waktu distribusi dapat berimbas positif kepada pengurangan biaya logistik.
Dia menambahkan Indonesia bisa becermin kepada Tiongkok atau Thailand, yang sudah lebih dulu menerapkan kereta cepat untuk logistik. Pun jalur yang diterapkan semestinya terkoneksi dengan sarana transportasi lainnya, yakni pelabuhan. "Untuk urusan bisnis, koneksi antara kota-kota besar seperti Jakarta-Semarang dan Jakarta-Surabaya harus diperingkas. Itu sangat mendukung efektivitas waktu," pintanya.
Kembali menyinggung kereta cepat untuk penumpang, Ade berpendapat terobosan itu perlahan akan mengurangi keruwetan lalu lintas Ibu Kota. Tidak dapat dimungkiri, sambung dia, banyak pengusaha daerah yang sengaja berdomisili di Ibu Kota untuk menghemat waktu.
"Jadi kalau dia (pebisnis) rumahnya di Bandung, tidak perlu sampai pindah ke Jakarta. Kan sudah ada kereta cepat yang katanya cuman setengah jam-an itu. Apalagi kalau jalurnya juga terkoneksi moda transportasi lain di Ibu Kota, makin banyak pebisnis malas berkendaraan pribadi."
Dalam kesempatan terpisah, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahladia mendukung kereta cepat. Selama ini, moda transportasi darat ia anggap hanya mengandalkan kendaraan konvensional yang pada akhirnya juga ikut terimbas kemacetan.
Bila ada kereta cepat dengan rute lebih panjang kelak, biaya logistik pun akan terimbas dampak positif. "Kereta api ini kami harap dapat memacu perekonomian dan pariwisata. Dalam pengerjaan proyek ini, HIPMI berharap dijalin kemitraan dengan pengusaha lokal," imbuhnya. Menekan konsumsi BBM Suara berbeda disampaikan Ketua DPP Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi. Kehadiran kereta cepat Jakarta-Bandung kelak dikhawatirkan Eri akan mengandaskan bisnis SPBU sepanjang jalur tol. Ia menduga, pengguna kendaraan roda empat nantinya akan jauh menurun di sepanjang Tol Cipularang-Cikampek.
"Ini seperti kasus KA Parahyangan," ujar Eri. Saat itu, kata dia, pembangunan Tol Cipularang mematikan operasional KA Parahyangan. SPBU di sepanjang tol tersebut pun hidup. Namun, bila ada kereta cepat, bukan tidak mungkin masyarakat akan berbalik ke ke moda transportasi kereta.
Apalagi, lanjut Eri, bila kereta cepat juga turut mengakomodasi barang. Ia memprediksi kereta cepat yang juga turut sebagai kereta barang bisa menekan penjualan solar yang biasa digunakan truk angkut. "Kemudian, kalau rutenya lebih panjang akan makin berkurang penjualan BBM. Memang dalam jangka panjang pasti akan ada pertumbuhan konsumsi BBM, tapi lama. Biasanya proses recovery pengusaha SPBU minimal 5 tahun kalau ada pergantian seperti itu," pungkasnya. (Jes/E-2)