Kewenangan Jadi Batas Pertemanan

Tes/E-4
20/9/2016 08:09
Kewenangan Jadi Batas Pertemanan
(MI/Duta)

MEMILIKI relasi yang cair layaknya berteman dengan atasan.

Itu bak oase di tengah pekerjaan yang membosankan atau penuh tekanan.

Keakraban dari sekadar ngopi bareng hingga saling menghadiri perayaan pribadi akan menciptakan kenyamanan dalam lingkungan kerja.

Namun, pada akhirnya, atasan tetaplah atasan yang notabene superior.

Artinya, ada suatu batasan bernama 'kewenangan' yang semestinya tidak boleh dilanggar demi sebuah profesionalitas.

Apa saja hal yang diharamkan? Seperti dikutip dalam laman Businessinsider.co.id, kemarin, hal tabu itu, misalnya, ketika perusahaan sedang dilanda krisis, akan lebih bijak bila anak buah, yang punya tanggung jawab tidak sebesar atasan, berusaha memosisikan diri dengan tidak melontarkan komentar negatif.

Situasi yang memanas harus didinginkan melalui optimisme.

Pun di saat atasan melakukan kesalahan, Anda boleh mengoreksinya asalkan bernada membangun.

"Perlu diingat, jangan sampai sering berkata 'saya tidak bisa', walaupun tugas dari atasan sangat sulit. Hanya karena berteman, bukan berarti Anda mendapat keistimewaan," ujar praktisi kepribadian sekaligus penulis buku Don't Burp in the Boardroom, Rosalinda Oropeza Randall.

Dalam struktur organisasi perusahaan, tanggung jawab tiap pegawai biasanya sudah dirinci.

Namun, tidak tertutup kemungkinan seorang karyawan akan diperbantukan ke sektor lain lantaran pekerjaan meluap.

"Memang pekerjaan yang diberikan bukan keahlian anda. Di situasi yang darurat, apa salahnya membantu dan membuat pekerjaan menjadi ringan," jelas praktisi karier, Ryan Khan.

Bersikap sopan bukanlah hal yang merugikan, khususnya bagi Anda yang mengejar posisi jabatan lebih tinggi.

Mulailah mengurangi penolakan saat diajak berdiskusi pekerjaan.

Berkata 'tidak tahu', bahkan 'akan saya coba' pun harus dikurangi karena malah menimbulkan ketidakpercayaan atasan.

Selain itu, mengambinghitamkan alasan pribadi untuk dimaklumi bukanlah tindakan profesional.

Prinsipnya, bukan Anda seorang yang memiliki masalah di dunia ini.

"Contohnya saat Anda baru putus dengan pasangan. Memang hidup Anda terasa hancur dan emosi kacau. Namun, itu tidak bisa jadi alasan pemakluman ketika Anda melakukan kesalahan dalam pekerjaan," imbuh Randall.

Dalam artian, jangan menunda pekerjaan hanya karena ingin mengambil waktu santai atau pulang lebih cepat, terlebih atasan Anda tengah dipusingkan setumpuk pekerjaan.

Jadi, relasi itu sejatinya ibarat aksi 'Tom and Jerry', bisa saling bertentangan, tapi kemudian akrab tanpa jarak.

Yang terpenting aspek profesionalitas berada di atas segalanya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya