Pegawai Usia 40 ke Atas Mestinya Kerja Tiga Kali Seminggu

Anastasia Arvirianty
19/9/2016 11:42
Pegawai Usia 40 ke Atas Mestinya Kerja Tiga Kali Seminggu
(MI/Seno)

USIA Anda sudah di atas 40 tahun? Anda merasa kemampuan fokus dan mengingat sebuah fakta semakin lama semakin menurun? Jangan khawatir, Anda bisa menyalahkan pekerjaan Anda.

Kenapa begitu? Para ahli mengatakan, ketika usia seseorang sudah 40 tahun ke atas, semestinya ia bekerja selama tiga kali dalam seminggu.

Penelitian terbaru yang dilakukan The Melbourne Institute of Applied Economic and Social Research mengungkapkan bekerja hingga 30 jam dalam seminggu baik untuk fungsi kognitif seseorang di atas 40 tahun. Namun, apabila lebih dari itu, hal tersebut bisa menyebabkan kinerja memburuk.

Bahkan, mereka yang bekerja 55 jam seminggu atau lebih menunjukkan penurunan kognitif lebih buruk daripada mereka yang sudah pensiun atau menganggur dan tidak bekerja sama sekali.

Penelitian tersebut dilakukan dengan mengamati 3.500 perempuan dan 3.000 laki-laki berusia 40 dan lebih. Mereka harus menyelesaikan tes fungsi kognitif, sementara kinerja mereka terus dipantau. Kemampuan mereka untuk membaca kata-kata keras, membacakan daftar angka, dan mencocokkan huruf serta angka dalam uji kecepatan dipantau dalam tes yang bernama Household Income and Labour Dynamics in Australia (Hilda).

"Baik 'berpikir' maupun 'mengetahui' merupakan indikator penting. Tes membaca ialah 'mengetahui' bagian dari kemampuan, sedangkan 'berpikir' menangkap memori, abstrak dan penalaran eksekutif," kata Profesor Colin McKenzie, penemu tes itu.

Beberapa rangsangan intelektual dianggap baik untuk mempertahankan fungsi kognitif di kemudian hari. Latihan otak seperti sudoku dan teka-teki silang dinilai mampu mempertahankan kekuatan otak pada orangtua.

Profesor McKenzie mengatakan kepada The Times banyak negara berencana menaikkan usia pensiun dan memaksa orang untuk bekerja lebih lama karena mereka tidak akan dapat mengklaim manfaat pensiun sampai nanti. "Saya percaya tingkat pekerjaan mungkin memiliki pengaruh penting terhadap hal ini," ujarnya.

Tingkat stimulasi intelektual mungkin bergantung pada jam kerja. Pekerjaan bisa menjadi pedang bermata dua karena dapat merangsang aktivitas otak, tetapi pada saat yang sama jam kerja yang panjang dapat menyebabkan kelelahan dan stres, yang berpotensi merusak fungsi kognitif.

"Bekerja penuh waktu--lebih dari 40 jam seminggu--masih lebih baik daripada tidak ada pekerjaan sama sekali dalam hal menjaga fungsi kognitif, asalkan tidak memaksimalkan potensi dampak dari pekerjaan."

Lalu, bagaimana menurut Anda? Apakah Anda merasa pengurangan jam kerja akan bermanfaat?(Arv/E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya