Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
TERPAAN badai krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1998, 2008 hingga yang terjadi satu tahun belakangan sulit dilepaskan dari fluktuasi ekonomi global. Supaya tidak sampai terjerembab ke kebangkrutan, Indonesia harus memiliki kebijakan ekonomi yang tidak sekadar menjadi solusi sesaat dan serbainstan.
"Faktor krisis yang lebih modern, ledakan finansial global, kini makin banyak dan harus disadari di masa depan. Itu sangat meledak dengan cepat dan harus ditangani dengan cepat," ucap mantan Wakil Presiden Boediono saat peluncuran cetakan kedua buku Ekonomi Indonesia Dalam Lintasan Sejarah di Jakarta, Kamis (15/9).
Dalam buku itu, Pak Boed, begitu ia biasa dipanggil, memaparkan upaya merumuskan kebijakan ekonomi di saat menjadi Gubernur Bank Indonesia dan wapres. Ia menekankan perlunya menerapkan penjaminan penuh pada sektor perbankan untuk menghindari risiko sistemis di masa krisis.
"Tanpa payung penjaminan penuh, satu-satunya opsi yang terbuka untuk menghindari risiko ialah dengan tidak memperbolehkan adanya bank jatuh. Bank Century tidak dibiarkan jatuh dan diambil alih LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) saat krisis ada di tahap paling rawan saat itu," tuturnya.
Ia menyebut krisis yang disebabkan musim dan harga komoditas pun bakal menghantui Indonesia di masa depan. Dia mencontohkan kelaparan bisa terjadi karena faktor musiman, seperti El Nino.
"Anjloknya harga ekspor utama juga bisa menjadi faktor krisis. Itu sudah terjadi dulu, sekarang, dan di masa depan. Ini mesti dirumuskan supaya dampaknya minimal," ujarnya.
Ekonom dari Universitas Indonesia Faisal Basri menilai tinjauan historis Boediono terhadap ekonomi Indonesia mengajarkan tidak ada ideologi untuk melahirkan sebuah kebijakan selain asas pragmatisme. "Kita belajar dari Pak Boed, orangnya sangat halus, tadi pas masuk (diiringi) musik keroncong, tapi sebenarnya sangat tajam memotret keadaan sekarang," urainya.
Inti nasihat Boediono, lanjutnya, segala sesuatu ada tahapannya dan tidak bisa ngebut. Tidak ada negara yang bisa meraih pertumbuhan ekonomi 7% bila rasio kredit terhadap PDB baru 40% atau indeks inklusi keuangannya baru 36,1%. Sistem keuangan ibarat jantung, harus dilatih dan diperkuat dahulu agar bisa berlari kencang.
Mantan Kepala Bappenas Armida Alisjahbana pun menilai Boediono sangat fokus pada generasi unggul. Di buku tersebut, Boediono menyoroti masih kerdilnya jasmani dan cara berpikir generasi muda di Indonesia. Semua itu disebabkan malanutrisi.
"Pak Boed ini sangat rewel soal itu. Ia mengingatkan supaya kesehatan dan pendidikan harus diperhatikan penuh sejak dini. Bukan soal asuransi kesehatan saja," tegasnya. (E-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved