Industri Menggeliat

Dero Iqbal Mahendra
27/8/2015 00:00
Industri Menggeliat
(Sumber: BKPM/Tim-MI/L-1/Grafis: Tiyok)

PEREKONOMIAN boleh mengalami kelesuan karena terimbas pelemahan rupiah. Akan tetapi, hal itu tidak serta merta menyurutkan langkah korporasi untuk meningkatkan kapasitas industri mereka. Menteri Perindustrian Saleh Husin mengakui investor dan pelaku bisnis menilai Indonesia masih prospektif untuk penanaman modal jangka panjang. Hal itu tecermin pada aliran dana masuk dan pendirian pabrik baru serta perluasan fasilitas produksi.

"Situasi ekonomi kini hanya temporer, sedangkan membangun pabrik bersifat jangka panjang. Saya melihat industri garmen semakin agresif menambah pabrik dan memperluas pasar ekspor. Sebagai penyumbang devisa, industri ini menyerap tenaga kerja 10,6% dari total tenaga kerja di industri manufaktur," kata Saleh seusai meresmikan empat pabrik garmen PT Eco Smart Garment Indonesia, di Boyolali, Jawa Tengah, kemarin.

Keempat pabrik milik anak usaha PT Pan Brothers Tbk tersebut menelan investasi US$34 juta atau sekitar Rp459 miliar dengan tenaga kerja 12 ribu orang.

Vice CEO of Pan Brothers Anne Patricia Sutanto mengakui pihaknya akan membangun lagi tiga pabrik garmen sehingga total investasi mencapai US$60 juta atau sekitar Rp810 miliar (lihat grafik).

Sebelumnya, PT Unilever Indonesia Tbk meresmikan pabrik bumbu masak di Cikarang, Jabar, dengan total investasi Rp820 miliar.

Presdir Unilever Indonesia Hemant Bakshi, Selasa (25/8), mengungkapkan perusahaan menyadari perlambatan ekonomi di Tanah Air. Namun, dia berkeyakinan kini saatnya menambah investasi untuk pengembangan bisnis.

"Target kami pada 2020 meningkatkan mata pencaharian 500 ribu orang dalam rantai pasokan. Kini kami mengembangkan 31 ribu petani kedelai hitam dan kelapa sebagai pemasok," ujar Hemant.

External Relation Director and Corporate Secretary of Unilever Sancoyo Antarikso mengatakan hingga Juni mereka telah mengeskpor produk senilai hampir Rp1 triliun ke Australia, ASEAN, dan Eropa.

Pada awal pekan ini, PT Holcim Indonesia Tbk juga meresmikan pabrik di Tuban, Jatim, setelah pabrik di Narogong, Jabar, dan di Cilacap, Jateng.

Menurut Presdir Holcim Indonesia Gary Schrutz, pabrik dengan investasi US$800 juta tersebut akan memasok semen ke Indonesia Timur.

"Kapasitas produksi pabrik baru 3,4 juta ton per tahun. Kini, perseroan mampu menghasilkan 12,5 juta ton semen per tahun."

Gary mengakui perlambatan ekonomi di Tanah Air turut memukul pertumbuhan industri semen. Namun, perseroan dengan kode emiten SMCB itu tetap mengembangkan pasar. Ia menambahkan, Holcim juga menyiapkan belanja modal US$25 juta untuk membangun terminal storage di Lampung.

Percepat proyek

Menko Perekonomian Darmin Nasution kembali menegaskan langkah strategis yang dilakukan pemerintah mengantisipai pelemahan rupiah.

"Pertama, membeli kembali obligasi negara dan saham BUMN. Kedua, mempercepat pengeluaran (dana) untuk proyek strategis besar seperti pembangunan kereta cepat dan light rail transit. Intinya, memacu kegiatan di dalam dan menarik dana dari luar."

Kemarin, rupiah melemah 75 poin menjadi 14.099 per dolar AS jika dibandingkan dengan posisi sebelumnya 14.024. Sebaliknya, indeks harga saham gabungan menguat tipis 9,23 poin menjadi 4.237,73 karena pelaku pasar melanjutkan aksi beli mereka.

Kelompok 45 saham unggulan (LQ45) pun bergerak naik 2,54 poin menjadi 710,80.

(Jay/*/X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya