Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Agustus 2016 mengalami surplus. Namun, jika melihat tren hingga akhir tahun, kinerja ekspor impor cenderung menurun seiring dengan kelesuan perekonomian global.
Sebagai antisipasi, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengaku akan terus mengupayakan perluasan pasar ekspor, utamanya menembus pasar nontradisional. Hal itu dikatakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di sela-sela ASEAN Marketing Summit di Jakarta, kemarin (Kamis, 15/9).
"Karena kondisi ekonomi dunia belum pulih, kita buat kebijakan khusus untuk tetap menjaga neraca perdagangan yang masih surplus," terangnya.
Sembari tetap menjaga jalinan perdagangan dengan pasar tradisional, pemerintah membidik pasar baru dengan menyertakan strategi baru. "Kita enggak bisa lagi fokus tawarkan ke komoditas konvensional, misalnya yang berbasis sumber daya alam. Harus ada pengalihan ke komoditas potensial lain," beber Enggar.
Salah satu negara yang tengah dibidik ialah Iran yang telah diembargo Amerika Serikat lebih dari 30 tahun. "Kami minta KBRI di sana lebih proaktif untuk mencari tahu karakteristik kebutuhan negara di Timur Tengah tersebut," imbuh Enggar.
Ketika ditanya apakah pemerintah sudah memperhitungkan dampak pembukaan pasar baru terhadap kinerja ekspor nasional, Enggar belum berani berspekulasi.
"Growth (ekonomi) kita lagi bagus, tapi karena bagus jadi sasaran masuknya barang-barang dari berbagai negara. Kita mau masukin barang-barang ke negara lain, eh ekonomi mereka turun. Kondisi seperti ini yang harus dipertimbangkan," pungkasnya.
Impor turun
Dalam konferensi pers di kantornya, kemarin, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengatakan neraca perdagangan Agustus 2016 tercatat surplus US$293,6 juta, terutama didukung surplus neraca perdagangan nonmigas. Ia memprediksi tren surplus akan berlangsung hingga akhir tahun.
Surplus neraca dagang Agustus terutama didukung kenaikan ekspor yang cukup tinggi setelah pada Juli merosot akibat perdagangan yang tidak efektif selama libur panjang Lebaran. Namun, ia memperkirakan ekspor pada September akan turun tipis.
"Oktober-Desember akan naik lagi dan Desember jadi titik puncak ekspor. Kalau impor kita lihat akan turun sedikit-sedikit. Jadi, kita lihat peluang surplus akan terjadi," ucap Sasmito.
Di sisi impor, penurunan memang terus terjadi. Dari catatan BPS, impor barang modal dan bahan baku selama beberapa bulan terakhir turun. Secara kumulatif, impor barang modal turun 12,86% dari Januari-Agustus 2015 dan impor bahan baku turun 10,74%. Adapun impor barang konsumsi naik 11,79% ketimbang periode yang sama tahun lalu.
Menurut Menteri Enggar, penurunan kinerja impor, misalnya pada bahan baku, merupakan buah manis dari kebijakan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Kendati demikian, sambung dia, bukan berarti pemerintah bakal menutup total keran impor. Apalagi, masih ada bahan baku yang belum bisa disediakan industri lokal untuk disalurkan ke penghiliran.
Sementara itu, Bank Indonesia menilai kinerja neraca perdagangan Agustus yang positif akan mendukung kinerja transaksi berjalan. Namun, BI juga mengingatkan surplus Agustus itu masih dibayangi melorotnya surplus neraca perdagangan nonmigas dan meningkatnya defisit perdagangan migas.
Karena itu, BI akan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik yang dapat memengaruhi kinerja neraca perdagangan serta mengupayakan agar kegiatan ekonomi domestik terus berjalan baik.(Jes/RO/E-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved