Jemaah Haji Ringankan Beban Arab Saudi

MI
13/9/2016 09:40
Jemaah Haji Ringankan Beban Arab Saudi
(MI/Duta)

JULUKAN 'Negeri Petrodolar' sepertinya harus ditanggalkan dari Arab Saudi. Jatuhnya harga komoditas dan cadangan minyak yang terus berkurang membuat penguasa negeri tempat lahirnya agama Islam itu pun tersadar bahwa ketergantungan pendapatan negara terhadap 'emas hitam' itu harus segera dihentikan.

Syahdan, jatuhnya harga minyak dunia sejak 2014 membuat keuangan Arab Saudi terseok-seok dengan defisit anggaran yang membengkak menjadi US$100 miliar. Pada 2015, pendapatan mereka terjun bebas sampai 23%.

Sejatinya, sebagai kiblat 1,5 miliar pemeluk Islam di dunia, Arab Saudi mampu mengumpulkan pundi-pundi dari sekitar dua juta jemaah di saat musim haji dan ratusan ribu orang yang umrah setiap tahun.

Dalam hitungan pemerintah, pariwisata yang terkait dengan aktivitas ibadah itu bernilai US$22 miliar (Rp290 triliun) pada 2015.

Namun, peran sektor wisata ibadah itu masih jauh dari kontribusi hasil migas. Walakin, itu hanya receh, atau 3,5% dari PDB mereka, ketimbang kontribusi 40% dari minyak meski akhirnya pemerintah kerajaan memutuskan ibadah haji dan umrah tetap menjadi tumpuan.

Target ambius pun dirancang. Raja Salma, raja ketujuh dari Dinasti Saud, pun setuju menarik rata-rata 30 juta peziarah internasional hingga 2030, naik dari 8 juta pada 2015.

Hal itu pun diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru bagi warga mereka. Menurut McKinsey Global Institute, sekitar 883 ribu penduduk Arab Saudi sudah bekerja di bidang pariwisata, atau mengisi 8% pekerjaan di dalam negeri. Angka itu bisa menjadi 1,3 juta pada 2030 jika target terpenuhi.

Strateginya, kerajaan berencana meringankan pembatasan visa sehingga jemaah haji bisa tinggal lebih lama dan melakukan perjalanan ke kota-kota lain setelah akhir musim haji. Investasi masif untuk hotel baru serta lebih dari US$13 juta per tahun untuk renovasi situs sejarah pun dilakukan.

Di luar itu, mereka menawarkan wisata monumen kuno, menyelam di Laut Merah, dan gurun Arab. Namun, dengan pembatasan wilayah bagi nonmuslim, target menarik wisatawan sekuler menjadi pekerjaan rumah yang cukup rumit.

"Tapi pasti ada ruang bagi pemerintah untuk membangun tujuan bagi para peziarah dan menarik wisatawan yang ingin mengunjungi pemandangan alam dan arsitektur kuno," kata ekonom Timur Tengah untuk Capital Economics, Jason Tuvey seperti dirilis akhir pekan lalu.

Mungkin saja Arab Saudi akan jorjoran membuka kuota baru jemaah haji dan menjadi berkah bagi Indonesia.

Penduduk di negara dengan populasi muslim terbesar di dunia itu harus mengantre puluhan tahun untuk bisa berhaji. Semoga mereka tidak perlu lagi bersiasat menempuh jalur ilegal dengan menyamar menjadi warga negara lain untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut.(Arv/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya