Euforia batu akik di tengah masyarakat membuat impor golongan perhiasan dan batu permata melesat. NERACA perdagangan Indonesia kembali membukukan surplus pada Juli 2015. Itu berarti sudah delapan bulan berturut-turut surplus perdagangan selalu dapat diraih. Sayangnya, surplus tersebut, menurut penilaian ekonom Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono, belum bermakna positif terhadap perekonomian.
"Juli surplus naik tipis karena penurunan impor, sedangkan impor turun karena dipengaruhi melemahnya daya beli terhadap barang-barang impor termasuk barang modal yang diperlukan untuk investasi," papar Tony ketika dihubungi, kemarin. Senada, ekonom dari Universitas Padjadjaran Ina Primiana menyebutkan neraca perdagangan yang surplus US$1,33 miliar di Juli 2015 lebih karena penguatan dolar AS. Akibatnya, tidak ada dampak positif langsung terhadap perekonomian. Dengan ketergantungan bahan baku impor yang masih tinggi, margin industri bahkan bisa turun.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan surplus Juli 2015 dipicu oleh surplus sektor nonmigas yang mencapai US$2,2 miliar. Surplus itu mampu mengompensasi defisit di sektor migas yang sebesar US$ 0,87 miliar. Akumulasi neraca perdagangan sepanjang Januari-Juli 2015 juga tercatat surplus sebesar US$5,73 miliar.
"Ini (surplus perdagangan Juli) merupakan surplus terbesar dalam 19 bulan terakhir. Bisa dibilang memecahkan rekor," ujar Deputi Bidang Statistik Produksi Adi Lumaksono berapi-api dalam konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, kemarin. Secara keseluruhan, nilai ekspor pada periode Juli 2015 tercatat US$11,41 miliar atau turun 15,53% ketimbang ekspor bulan sebelumnya.
Adi mengungkapkan penurunan ekspor dipengaruhi turunnya harga minyak dunia. Adapun di sektor nonmigas akibat menurunnya harga komoditas seperti minyak sawit. Negara tujuan utama ekspor nonmigas masih ditempati Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang dengan peranan keseluruhan mencapai 32,48%. Secara akumulatif nilai ekspor Januari-Juli 2015 mencapai US$89,76 miliar atau turun 12,81% jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.
Euforia batu akik BPS juga menyebutkan nilai impor Juli 2015 turun lebih dalam ketimbang ekspor, menjadi US$10,08 miliar. Walau secara umum turun, ada beberapa komoditas yang mencatatkan penaikan impor. Sebut saja golongan perhiasan dan permata sebesar US$2,01 miliar atau naik signifikan hingga 3.298% ketimbang bulan sebelumnya.
Disusul golongan kapal terbang dan bagiannya US$9,94 miliar, atau naik 160%. "Meski ada tren batu akik di tengah masyarakat, nyatanya ada jenis batu mulia yang Indonesia tidak punya sehingga masih diimpor," tutur Adi. BPS menilai turunnya nilai ekspor impor erat kaitannya dengan situasi perekonomian global. Di antaranya, nilai tukar rupiah yang kian tergerus, khususnya terhadap dolar AS. Penurunan harga beberapa komoditas juga praktis berkontribusi besar terhadap arus ekspor dan impor. "Tapi kita patut bersyukur penurunan ekspor lebih lamban daripada penurunan impor. Dengan demikian surplus perdagangan negara kita tetap meningkat. Harapannya akan seperti itu seterusnya," tutup Adi. (Ire/E-1)