Mandiri Pacu Bisnis Mikro di NTB

Yusuf Riaman
19/8/2015 00:00
Mandiri Pacu Bisnis Mikro di NTB
( ANTARA /Ahmad Subaidi)
DALAM rangkaian kegiatan BUMN memperingati HUT ke-70 RI di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin bersama rombongan berkunjung ke sentra kerajinan tenun di Desa Sukara, Kabupaten Lombok Tengah. Di sana rombongan mendatangi art shop Dharma Setya yang telah menjadi nasabah Bank Mandiri sejak 2010.

Budi tak cuma mengamati secara serius hasil tenunan Sukara, tapi juga berdialog dengan Hj Robiah selaku pemilik dan dengan penenun kain yang ada di halaman art shop Dharma Setya.

Di sana Budi, antara lain, mendapat penjelasan bahwa menurut tradisi masyarakat setempat, menenun bagi wanita di Sukara ialah satu keharusan. "Di sini wanita tidak diizinkan menikah oleh orangtuanya jika belum bisa menenun," ujar salah seorang penenun.

Menurut cerita Robiah kepada Media Indonesia, kain tenun tradisional dengan berbagai motif yang dipajang di tokonya merupakan hasil tangan para perajin yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Hasil kerajinan warga itu kemudian dititipkan di sejumlah toko, antara lain di Dharma Setya.

Bicara soal permintaan, peminat kain tenun tradisional Sukara cukup tinggi. Diakui Robiah, art shop miliknya dalam sebulan bisa menghasilkan omzet penjualan hingga Rp500 juta, "Kalau penjualan dalam sehari minimal (omzetnya) sekitar Rp10 juta," ujarnya.

Potensi seperti inilah yang membuat Bank Mandiri terus mengembangkan segmen mikrobanking guna membantu menggerakkan sektor riil di daerahdaerah. Di NTB, jumlah nasabah kredit mikro Bank Mandiri pada akhir Juni 2015 mencapai 18.665 ribu debitur dengan nilai pembiayaan sebesar Rp919 miliar, tumbuh 35% dari Juni 2014 yang sebesar Rp680 miliar. Portofolio terbesar ialah sektor usaha perdagangan.

Budi mengakui wilayah seperti NTB memiliki potensi sumber daya yang besar untuk digarap pelaku usaha mikro. "Oleh karena itu, NTB menjadi salah satu daerah yang menjadi fokus unit mikro Bank Mandiri untuk dikembangkan," terang Budi.

Di NTB, sebutnya, juga ada usaha sapi, perkebunan jagung, rumput laut, produk mutiara air laut hingga kerajinan tenun yang menjadi lahan usaha potensial untuk bisa digarap demi meningkatkan pendapatan asli daerah. Belum lagi industri wisata di daerah tersebut yang sudah terkenal hingga ke mancanegara.

Budi menjelaskan salah satu strategi utama dalam mengembangkan segmen bisnis ini ialah dengan memperkuat jaringan unit mikro ke wilayah-wilayah terpencil. Pasalnya, semakin banyak gerai atau kantor mikro yang ada, akan semakin mudah menjangkau pelaku usaha segmen tersebut.

Hingga paruh pertama 2015, jaringan mikro bisnis Mandiri di wilayah NTB meliputi 26 Cabang Mikro, 15 unit Gerai Mandiri Mitra Usaha, 4 Kios Mikro, dan 1 MobilMU. Adapun hingga akhir tahun nanti, jaringan tersebut akan bertambah 8 kantor mikro, yang terdiri dari 4 Cabang Mikro dan 4 unit Gerai MMU.

Dikatakan Budi, berkat pendampingan usaha serta dukungan optimal Bank Mandiri, kualitas aset mikro di NTB juga tercatat cukup baik, non-performing loan (NPL)-nya pada kisaran di bawah 1%. Dengan strategi tersebut, lanjutnya, perseroan optimistis dapat mendorong pertumbuhan bisnis mikro hingga 7%-8% di NTB.

Budi menyebutkan, secara nasional, Bank Mandiri telah menyalurkan pembiayaan mikro hingga Rp39,8 triliun pada Juni 2015 atau tumbuh 33,7% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp29,7 triliun.

Jaringan mikro Bank Mandiri sendiri terus berkembang dan pada akhir Juni lalu telah meliputi lebih dari 1.128 unit Gerai Mandiri Mitra Usaha, 903 Cabang Mikro, lebih dari 706 Kios Mikro, 4 Kantor Kas, dan 5 MobilMU, "Hingga akhir tahun ini Bank Mandiri berencana menambah 100 kantor Cabang Mikro dan 300 kantor unit serta 10 mobil mitra usaha," tandasnya.(YR/S-25)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya