BPS Setuju Data Pangan Dievaluasi

Tesa Oktiana Surbakti
19/8/2015 00:00
BPS Setuju Data Pangan Dievaluasi
( ANTARA/Yusuf Nugroho)
KEPRIHATINAN Menko Perekonomian Darmin Nasution soal tidak akuratnya data pangan sehingga memengaruhi kebijakan pemerintah memperoleh tanggapan positif dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Deputi Bidang Statistik Produksi BPS Adi Lumaksono kepada para pewarta di kantornya, kemarin (Selasa 18/8/2015), mengatakan, "Silakan dievaluasi, tetapi harus menyeluruh karena data BPS bukan tunggal.

Ada kontribusi dari dinas atau Kementerian Pertanian."Adi menjabarkan data yang diproduksi memiliki komposisi 25% dari BPS dan 75% sisanya berasal dari dinas pertanian seluruh wilayah di Tanah Air. "Oleh karena itu, evaluasi harus menyeluruh. Kami sudah berperan sejak 1973 dan selalu mengedepankan independensi."

Melalui evaluasi tersebut, lanjut Adi, nanti terlihat apakah data BPS tersebut overestimate (menaksir berlebihan) atau tidak. "Pengertian overestimate, yakni data menunjukkan ketersediaan tinggi, padahal realitas di lapangan tidak. Kini, kami sedang menyurvei stok pangan baik dari sisi produksi maupun konsumsi. Semua faktor itu kemudian bisa menjustifikasi data mana yang disebut overestimate."

Selain menghitung potensi ketahanan pangan seperti beras, menurut Adi, BPS memprioritaskan penghitungan terhadap cadangan sapi potong.

"Akurasi penghitungan sapi krusial karena menjadi bahan rekomendasi impor. Kami melihat populasi sapi turun karena kesalahan dalam pemotongan. Sudah ada aturan di peternakan, 90% sapi yang boleh dipotong dan sisanya untuk bibit. Sapi betina boleh dipotong setelah lima kali melahirkan, tetapi yang dijual di pasar lebih banyak sapi betina produktif sehingga populasi sapi menurun," tandas Adi.

Impor sapi
Penurunan populasi sapi tersebut yang akhirnya memunculkan wacana impor. Untuk mengatasi masih tingginya harga daging sapi, yakni Rp120 ribu per kg, Kementerian Perdagangan kembali membuka peluang impor pada kuartal IV sebanyak 200-300 ribu ekor.

"Kami belum putuskan sapi bakalan, sapi potong, atau indukan," Pemerintah membuka peluang impor sapi sebanyak 200-300 ribu ekor untuk menurunkan harga daging.ujar Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Karyanto Supri.

Mengingat tujuan impor sapi tersebut memenuhi kebutuhan pasar, Karyanto tidak menampik bahwa pilihan jenis sapi siap potong yang paling praktis. "Pemerintah mengutamakan sapi lokal. Kalau kurang, impor jadi pilihan terakhir untuk stabilkan harga."

Sementara itu, di Bandung, Depok, Sukabumi, Tasikmalaya, Temanggung, dan Purwokerto kemarin harga daging ayam melonjak di kisaran Rp38 ribu-Rp40 ribu per kg. Harga itu jauh di atas harga ketika menjelang Lebaran, yakni Rp30 ribu-Rp34 ribu.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Srie Agustina mengakui kenaikan harga daging ayam disebabkan menipisnya stok di tingkat peternak lantaran masih larut dalam situasi Lebaran. "Kini, peternak sudah memiliki bibit dan tidak lama lagi panen. Kami prediksi panen di peternak baru pekan depan. Jadi, pekan depan harga daging ayam bakal normal," jelas Srie. (Jay/KG/AM/DG/AD/BB/LD/TS/X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya