PT Freeport Indonesia (PTFI) bersiap melakukan penghematan di tengah ketidakpastian perpanjangan operasional kontrak karya per-usahaan, rendahnya harga komoditas, serta siklus alam berupa El-Nino
"PTFI menghadapi bebe-rapa tantangan besar dalam sejarah perusahaan. Manajemen akan menjalankan kebijakan, strategi, dan upaya perusahaan dalam menggapai visi dan misi secara efektif dan efisien," kata Presiden Direktur PTFI Maroef Sjamsoeddin di Tembagapura, Papua, Senin (17/8).
Maroef mengingatkan, saat ini Freeport tengah menghadapi ujian, antara lain penurunan harga komoditas tembaga, perak, dan emas.
Perusahaan juga membutuhkan investasi untuk kelanjutan produksi pada tambang bawah tanah dan perluasan kapasitas pabrik pemurnian dan pengolahan (smelter) di Gresik, Jawa Timur, serta belum adanya kepastian persetujuan pemerintah terkait dengan perpanjangan kontrak karya yang akan berakhir pada 2021.
Tantangan lain datang dari kondisi alam berupa El- Nino. Hal itu perlu menjadi fokus antisipasi terhadap nilai produksi. Namun, ia menjamin Freeport akan bertahan tetap beroperasi layaknya perusahaan tambang kelas dunia berlandaskan manajemen yang patut dan bersih serta berwawasan lingkungan.
Sebelumnya, saat berdiskusi dengan para pewarta dari Jakarta, Timika, dan Jayapura, ia menegaskan bahwa PTFI saat ini sudah merupakan aset nasional walaupun dimodali Amerika Serikat. Hampir semua pekerja Freeport merupakan putra-putra bangsa dan telah memberi dampak besar bagi ekonomi lokal dan nasional. Maroef mengaku heran dengan pertanyaan seputar peran Freeport bagi Indonesia.
"Dari total 30.004 pekerja, lebih dari 97,43% ialah karyawan nasional dan ada 7.772 warga Papua di dalamnya. Baru sisanya 2,57% karyawan asing," kata Maroef.
Dia juga mengingatkan bahwa raksasa tambang itu telah memberi sumbangsih besar bagi pendapatan nasional maupun lokal berbasis produk domestik bruto.
"Kami menyumbang 0,8% bagi PDB Indonesia dan 37,5% dari dari PDRB Provinsi Pa-pua, bahkan menyumbang 91% dari PDRB Kabupaten Mimika," kata Maroef.
Lalu, selama puluhan tahun perusahaan juga sudah menerapkan sejumlah program pemberdayaan masyarakat, baik di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi berbasis desa, maupun infrastruktur.
Hal itu juga sejalan dengan investasi yang sudah dita-namkan PTFI sebesar US$4 miliar serta rencana investasi berikutnya sebesar US$15 miliar untuk pengembangan tambang bawah tanah (underground) dan US$2,3 miliar untuk pembangunan smelter. Tambang bawah tanah Vice President of Corporate Communications PTFI Riza Pratama menambahkan, masa depan tambang mineral Freeport kini berada di tambang bawah tanah (underground mine) setelah tambang terbuka Grasberg akan memasuki akhir produksi pada 2017.
"Freeport kini tengah mengembangkan tambang bawah tanah deep mill level zone (DMLZ), sebuah proyek ekspansi yang akan mulai beroperasi pada 15 September 2015," katanya.
DMLZ terletak di kedalaman 1.600 meter dari tambang terbuka Grasberg dan berada di ketinggian 2.600 meter di atas permukaan laut. (E-3)