Disain Cerdas dari Keterbatasan

Arief Hulwan
18/8/2015 00:00
Disain Cerdas dari Keterbatasan
(ANTARA /Erafzon SAS)
KETERBATASAN acap kali memberi peluang bagi kreativitas. Itu pula yang tersirat dalam desain Paviliun Indonesia di pameran dunia Milan Expo 2015.

Lantaran mengusung kearifan lokal melalui konsep lumbung padi dan bubu, alat tangkap ikan, arsitektur hijau otomatis terakomodasi. Efektivitas gedung diklaim teruji melalui tantangan.

Direktur Paviliun Indonesia Budiman Muhammad, saat ditemui di Milan, Italia, akhir pekan lalu mengatakan keterbatasan itu terjadi karena dana negara absen di paviliun ini. Lobi Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu pada 2010 tidak mampu melahirkan alokasi anggaran untuk pameran.

Akhirnya, Koperasi Pelestari Budaya Nusantara (KPBN) di bawah almarhum Didi Widiatmoko, alias Didi Petet, mengambil inisiatif. Namun, waktu pendaftaran yang mepet tenggat berimpak minimnya lahan yang didapat, yaitu 1.175 m2. Sebagai pembanding, Malaysia dan Vietnam yang didukung penuh pemerintah mereka mendapat lahan tiga kali lebih besar.

Tugas berikutnya ialah membangun konstruksi paviliun. KPBN di era mendiang Didi Petet memilih Rubi Roesli, Miranti Gumayana, dan Dani Hermawan sebagai anggota tim arsitek. Biaya penyelesaian konstruksi mencapai Rp2,5 miliar.

Keharusan menyinkronkan tema Expo Milano 2015 Feeding the planet, energy for life, dengan terbatasnya dana, waktu, dan luas lahan diakuinya jadi tantangan utama. Dipilihkan kemudian bentuk bubu dan lumbung sebagai wujud kearifan dan keahlian lokal yang lalu diinterpretasikan secara modern. Dua hal itu dipandang sebagai bentuk interaksi harmonis antara nelayan dan petani di Indonesia yang merupakan negara maritim sekaligus agraris.

Bubu diwujudkan dalam bentuk panel dari anyaman rotan melengkung yang dipasang horizontal secara berlapis di sekeliling dinding atas bagian luar, sedangkan lumbung diwujudkan dalam keseluruhan bangunan paviliun. Paviliun itu pun didesain dengan terbuka bagi cahaya dan udara. "Banyak apresiasi soal desain kita. Dengan semua itu secara tak sengaja kita arsitekturnya smart," aku Budi.

BiarpetDesain cerdas itu membuat Paviliun Indonesia bebas dari masalah listrik. Milan, menurutnya, terbilang defisit listrik. Biarpet sempat beberapa kali terjadi. Paviliun yang secara penuh mengandalkan listrik untuk penerangan dan pendingin udara, seperti Qatar dan Cile, terpaksa tak beroperasi hingga kendala listrik teratasi.

"Sebelah paviliun Indonesia ini juga kan ada panel lampu besar dari (paviliun) Turkmenistan. Kita jadi tak perlu pasang lampu di deretan bangku di bagian luar ini meski sudah malam. Sudah diterangi tetangga sebelah.

"Budiman berharap arsitektur Paviliun Indonesia yang memanfaatkan alam mampu meraih perhatian dewan juri World Expo 2015 di Milan, Italia. Pada World Expo 2010 di Shanghai, Tiongkok, Paviliun Indonesia mendapat peringkat ketiga untuk tampilan kreatif kategori Large Self-Built Pavillion.

Pendiri Artha Graha Network, salah satu perwakilan Indonesia di Milan Expo, Tomy Winata pun menargetkan kunjungan ke Paviliun Indonesia hingga 2 juta orang. Adapun di Shanghai dulu, Paviliun Indonesia mampu menyedot 8,1 juta pengunjung. (E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya