Data Pangan tidak Akurat

Anshar Dwi Wibowo
18/8/2015 00:00
Data Pangan tidak Akurat
(Sumber: Guru Besar IPB Dwi Andreas Santoso/Kementan/PP No. 17/2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi/L-1)

GEGAP gempita peringatan 17 Agustus di sejumlah daerah, kemarin, melupakan sejenak penaikan harga pangan, seperti daging sapi yang disusul daging ayam. Hari-hari berikutnya, rakyat belum segera akan terbebaskan dari kado pahit 70 Indonesia Merdeka itu.

Pasalnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui data pangan tidak akurat sehingga memengaruhi penanganannya. Akibatnya, masalah pangan tak kunjung terselesaikan dengan tuntas.

"Ada beberapa persoalan akurasi data dan sebagainya yang diperjelas sehingga kita bisa dapat membuat kesimpulan yang lebih akurat," kata Darmin di Istana Merdeka, Jakarta, kemarin.

Jika ada data yang akurat, lanjutnya, pemerintah akan mengambil kebijakan tepat mengenai kondisi yang mengganggu kondisi pangan.

Sebut saja dampak El Nino yang membuat kekeringan di beberapa daerah. Keakuratan data itu, menurut Darmin, memengaruhi pengeluaran atau belanja kementerian/lembaga (K/L) terserap dengan baik.

Pengamat pertanian Ahmad Yakub mengamini pernyataan mantan Gubernur Bank Indonesia itu. Dia menekankan perlunya peningkatan koordinasi antarkelembagaan pemerintah dalam masalah pangan, yakni antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan.

Menurut dia, Kementan wajib memiliki data stok pangan nasional. Yakub menyebutkan masalah kelangkaan daging sapi tidak akan terjadi seandainya Kementan mengantongi data stok sapi lokal, seperti jumlah dan di mana lokasinya.

Dia mencium indikasi kelangkaan daging sapi sengaja diciptakan untuk menguntungkan pihak tertentu.

Yakub menyarankan pemerintah selekasnya membentuk badan ketahanan pangan. Badan tersebut bertanggung jawab terhadap distribusi, koordinasi produksi, dan manajemen stok pangan nasional.

"Selama ini peran Bulog hanya bertugas menyerap beras petani dan juga menjaga harga. Namun, di sisi lain, sebagai BUMN ia harus juga mendapat keuntungan," pungkasnya.

Masih tinggi

Di lapangan, harga daging sapi masih di atas Rp100 ribu, melampaui target yang dicanangkan Mentan Andi Amran Sulaiman, Jumat (14/8), yakni Rp90 ribu.

Di pasar tradisional Kota Sukabumi, Jawa Barat, harga daging masih bertengger di atas Rp100 ribu meskipun terjadi penurunan dari Rp130 ribu ke Rp110 ribu.

Setelah pedagang daging sapi mogok, di Jabodetabek, pedagang ayam mulai mogok berdagang sejak kemarin. Pemogokan direncanakan sampai besok. "Kami hanya minta harga kembali normal. Kalau begini, kami bingung," ujar Iwan, 45, pedagang Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Harga ayam hidup, menurutnya, naik dari Rp30 ribu menjadi Rp40 ribu. Pedagang ayam se-Bogor Raya juga mogok.

Terkait dengan sidak dan operasi pasar, pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai hal itu tidak efektif. "Sistemnya harus diperbaiki," katanya.

Dia mencontohkan Korea Selatan yang memiliki sistem pengendalian pangan berupa informasi harga yang dikeluarkan pemerintah dan kontrol terhadap gudang swasta.(Jay/Wan/Mal/Dro/DD/BB/JS/X-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya