Fundamental Ekonomi Dijaga

Fathia Nurul Haq
14/8/2015 00:00
Fundamental Ekonomi Dijaga
(Sumber: Kementerian Keuangan/Gubernur BI/L-1/Grafis: Caksono)

DALAM menghadapi tekanan perekonomian global, salah satunya tecermin dari pelemahan nilai tukar rupiah, pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) sepakat bersama-sama menjaga fundamental ekonomi.

Hal tersebut disepakati dalam rapat Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan yang dihadiri Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menkeu Bambang Brodjonegoro, Gubernur BI Agus Martowardojo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Heru Budiargo di Kementerian Keuangan, kemarin.

Untuk menjaga fundamental ekonomi tersebut, Bank Sentral sebagaimana diutarakan Agus Martowardojo memastikan selalu hadir di pasar. Menurut Agus, pihaknya telah menyiapkan empat langkah untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

"Pertama, kami akan meyakinkan kebijakan BI itu konsisten dan kredibel. Kedua, kalau kami mengeluarkan kebijakan, akan berkoordinasi agar tepat waktu dan terukur. Kami merespons, tetapi tidak berlebihan."

Langkah ketiga ialah merencanakan pengeluaran kebijakan tepat waktu dan terukur. Langkah terakhir, lanjut Agus, BI melakukan komunikasi yang baik untuk menghindari adanya gap.

Di penghujung rapat seluruh pemangku kepentingan sepakat stabilitas sistem keuangan dan makroekonomi Indonesia masih terkendali di tengah tekanan global.

Kemarin, pasar uang dan saham mulai merespons positif sejumlah langkah pemerintah dan BI tersebut. Indeks harga saham gabungan naik ke level 4.584,25 dari sebelumnya 4.479,49. Adapun kurs tengah rupiah menguat tipis ke posisi 13.705 per dolar AS dari sebelumnya 13.756.

Agus menyebutkan pelemahan rupiah 2,47% ke level 13.705 per dolar AS dari rata-rata 12.807 pada kuartal lalu masih dibalut pengaruh krisis Eropa dan devaluasi mata uang Tiongkok.

Tiongkok mendevaluasi yuan 1,9% pada Selasa (11/8), 1,6% pada Rabu (12/8), dan 1,11% pada Kamis (13/8). Kini, nilai yuan menjadi 6.4010 per dolar AS.

"Tiongkok melemah kinerja ekspornya, ada capital outflow, dan cadangan devisa turun," ujar Agus.

Menkeu Bambang Brodjonegoro menambahkan, pelemahan rupiah selain dipicu devaluasi yuan, juga disebabkan tekanan di pasar saham lokal karena sentimen negatif dan proyeksi emiten yang lebih rendah daripada ekspektasi investor.

Katalis pertumbuhan

Sementara itu, Menko Perekonomian Darmin Nasution mengakui pemerintah berupaya menerapkan kebijakan ekspansif untuk mendorong perekonomian.

"Kini pemerintah fokus fiskal, mendorong belanja agar penerimaan masyarakat naik dan pertumbuhan membaik."

Dalam menanggapi langkah prioritas Menko Perekonomian, yakni meningkatkan belanja dan menarik investasi, Presdir Eastspring Investments Indonesia Riki Frindos menilainya sebagai langkah tepat.

Dengan menggenjot belanja terlebih untuk infrastruktur, pertumbuhan ekonomi bisa merangkak di atas 4,67%.

"Katalis pertumbuhan dalam jangka pendek pasti belanja untuk infrastruktur."

Chief Investment Officer Eastspring Investments Indonesia Ari Pitojo juga sepaham pertumbuhan ekonomi akan meningkat seperti proyeksi BI, yakni 5%-5,4% jika belanja bisa terserap dalam waktu singkat.

"Selama ini kita bicara belanja. Kalau bicara penerimaan berapa besar, kita bicara belanja seharusnya untuk apa saja," tandas Ari Pitojo.

(Jes/Dro/X-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya