SUARA lantang komandan upacara mengumandangkan aba-aba. Pasukan yang berdiri tegak menghadap podium diminta memutarkan badannya ke arah tengah. Mereka membuka jalan bagi laju pasukan pengibar bendera. Dalam baju kebesaran masing-masing, pasukan melangkah menuju tiang bendera. Fokus mereka bergeming meski keringat mengucur deras dari dahi masing-masing. Posisi tubuh tetap tegak menunjukkan keserius an walau gerah menyapa di balik seragam pakaian dinas upacara. Itu kali pertama bagi para anggota Paskibraka mengenakan pakaian kebesaran yang digunakan dalam pemantapan latihan gabungan setelah resmi ditetapkan sebagai calon anggota Paskibraka tingkat nasional. Momen tersebut juga menjadi latihan gabungan bersama pasukan pengamanan presiden (Paspampres) dan seluruh angkatan dan kepolisian terakhir yang dilaksanakan di Lapangan PP-PON (Pusat Pengembangan Pemuda dan Olahraga Nasional), Cibubur, Jakarta Timur, Senin (10/8). Mereka baru bertemu kembali pada saat geladi kotor yang akan dilaksanakan Kamis (13/8), dan geladi resik di Istana Merdeka, Jakarta, pada Sabtu (15/8). Tim Paskibraka yang bertugas waktu latihan gabungan itu ialah Tim Nakula. Mereka bergerak dalam formasi 17-8-45 sebagai perlambang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Sedangkan, setengah anggota Paskibraka lainnya yang disebut Tim Sadewa berjaga di belakang podium dalam sikap istirahat di tempat, dan bersiapsiap untuk latihan seperti yang diperankan Tim Nakula. Meski begitu, formasi tersebut masih terus berotasi hingga penetapan formasi fi nal akan dilaksanakan pukul 06.00 WIB pada 17 Agustus mendatang. Strategi itu diterapkan untuk mempertahankan semangat juang mereka. Terbukti, keterampilan baris berbaris mereka meningkat pesat dan diapresiasi oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.
"Saya mendorong mereka dan memotivasi mereka supaya sukses dan tampil luar biasa. Mereka harus memberikan yang terbaik kepada negeri ini karena sekian ratus juta penduduk akan melihat mereka pada detik-detik yang membanggakan, menggetarkan dan bersejarah bagi Republik Indonesia, "ujar Menpora saat memberi arahan kepada Paskibraka.Ia meyakini penggemblengan yang dilaksanakan oleh para pelatih dan pembina selama hampir tiga minggu akan mampu menyiapkan para anggota Paskibraka dalam posisi. Ia berharap bekal yang diterima selama pelatihan itu dapat diaplikasikan saat mereka kembali ke daerahnyamasing-masing. Utamanya disebarkan kepada rekan-rekan sebaya mereka. "Lebih dari itu, saya mendorong agar mereka menjadi motivator dan inspirator bagi generasinya, teman-teman seangkatannya untuk bisa tampil seperti mereka," imbuh Menpora Imam Nahrawi. Mengelola ego Walau demikian, tim pelatih masih menilai kesiapan para anggota Paskibraka sudah cukup baik, tapi belum optimal. Anggota tim pelatih Paskibraka. Serka Nyamin menyatakan kekurangan yang ditemukan berasal dari perbedaan kemampuan perseorangan atas tugas-tugas spesifi k, seperti pemb awa baki, dan pengerek bendera. Kelemahan lainnya berasal dari ego individual sehingga mempengaruhi kekompakan tim. Itu disebabkan semangat kedaerahan yang masih melekat pada sebagian anggota.
"Kita seharusnya menghilangkan ego kedaerahan kita dan menumbuhkan jiwa merah putih. Enggak ada ras, suku, agama tertentu, tetapi sama-sama kita di situ. Samasama merah putih," cetus Nyamin pada kesempatan berbeda. Tim pelatih melakukan berbagai upaya demi mereduksi sikap tersebut. Salah satunya memberikan hukuman bersama dengan cara berlari keliling lapangan atau scot jump kepada seluruh pasukan meski kesalahan dibuat oleh satu dua orang. Cara lainnya ialah dengan memberi pengarahan, pemahaman, dan kesempatan untuk mereka mengevaluasi diri sendiri, sehingga kesalahan itu sudah berkurang," terangnya. Apresiasi seleksi Pada sisi lain, Nyamin mengapresiasi proses seleksi yang dilaksanakan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Format seleksi bertahap yang tertuang dalam Permenpora Nomor 0065/2015 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Paskibraka dinilai sukses menyaring perwakilan daerah terbaik. Hal itu dibuktikan dengan kemampuan daya serap, daya konsentrasi, dan kondisi psikologi para siswa yang baik. "Waktu kami terlalu singkat karena terbentur dengan libur hari raya Idul Fitri sehingga pelatihan dasar hanya lima hari, setelah itu langsung latihan gabungan dengan Paspampres. api, rata-rata kemampuan mereka bagus," pujinya. Penilaian senada disampaikan anggota tim pelatih Serma Mus Yayuk Sri Rahayu. Perempuan yang bertugas melatih membawabaki itu memandang kemampuan peserta merata. Semua ingin menampilkan yang terbaik. "Tapi, keputusan akhir siapa yang menjadi pembawa baki diserahkan kepada para pengambil kebijakan yang mempunyai kewenangan menentukan itu" sahutnya.
Menjelang satu pekan pelaksanaan pengibaran bendera, waktu dimanfaatkan untuk menggelar rangkaian geladi dan pengukuhan yang dilaksanakan berbarengan di Istana Negara. Jelang hari H, para pembina juga berupaya menguatkan mental peserta agar tidak gugup pada saat bertugas. "Biasanya sih mereka akan bolakbalik ke kamar kecil karena gugup. Tapi, kami minta mereka menganggap tidak ada orang di hadapan mereka supaya lebih fokus dan tenang," tukas Yayuk.