Jadikan Negara Tetangga Saingan

FETRY WURYASTI
14/8/2015 00:00
Jadikan Negara Tetangga Saingan
(Antara)
INDONESIA memiliki potensi destinasi wisata yang luar biasa. Sayangnya potensi itu baru dioptimalkan belakangan ini, terutama setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencanangkan sektor pariwisata sebagai salah satu leading sector. Menurut Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, pengoptimalan potensi dan kemampuan pariwisata Indonesia itu sebaiknya menggunakan negara lain sebagai pembanding dan sekaligus kompetitor. "Kita bisa melihat pada 2014, target kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) Indonesiabaru 9 juta. Saya perkirakan menjadi 10 juta pada 2015. Sementara wisman di Malaysia sebanyak 26 juta dan di Thailand sebesar 24 juta. Kalau dibandingkan dengan negara lain, baru kita bisa tahu bahwa Indonesia masih amat jauh tertinggal, cuma 1/3 dari negaranegara tersebut," kata Arief, di Jakarta, pekan lalu. Sebagai pebisnis, dia melihat dari sisi lain bahwa masih ada peluang besar untuk Indonesia mendatangkan lebih banyak wisman lagi. Targetnya ialah mendatangkan 20 juta wisman hingga 2019. "Meski lima tahun ke depan belum mengalahkan Malaysia dan Thailand, jika tidak seperti ini, Indonesia semakin kalah jauh dengan mereka." Menurut Arief, ada tiga kendala terbesar yang solusinya tidak bisa cepat. Pertama, infrastruktur pariwisata, terutama pada akses udara. Misalnya daya tampung bandara yang kurang luas serta panjang landasan yang juga kurang untuk mendaratnya pesawat-pesawat besar.

Pihaknya bersama dengan industri pariwisata telah meminta perpanjangan 22 landasan pacu bandara dan pembangunan 19 bandara baru. Upaya lain ialah menambah frekuensi penerbangan ke Indonesia. Kedua, hambatan pada teknologi informasi dan komunikasi (ICT) terkait dengan pariwisata. Sebenarnya teknologi informasi di kota-kota besar tidak ada masalah. Sayangnya ketika di ujung atau daerah tanpa listrik, pembiayaan untuk ICT sangat mahal. Dalam mengatasi itu, kementerian realistis. Dalam menempatkan pengoperasian ICT harus diperhitungkan sesuai pendapatan daerah. Kalau tidak, daerah tersebut akan rugi. Selanjutnya masalah ketiga ada pada kesehatan dan kebersihan. Disadari Arief, budaya Indonesia belum mengarah pada pemaksimalan kebersihan dan kesehatan fasilitas publik seperti toilet umum di kawasan wisata. Beberapa upaya yang akan dilakukan antara lain pemasaran, pengembangan destinasi, penyiapan sumber daya manusia/kelembagaan, serta pembinaan
industri pariwisata.

Promosi minim
Di sisi lain, dalam hal pemasaran Indonesia amat lemah di sektor promosi. Itu terkait dengan anggaran promosi yang minim. Hingga 2014, anggaran pariwisata  hanya Rp300 miliar. Bandingkan dengan Malaysia yang memiliki anggaran sebesar Rp3,9 triliun. Namun, setelah Joko Widodo jadi presiden, pariwisata dijadikan sektor unggulan bersama dengan tiga sektor lain, yakni maritim, energi, dan pangan. Anggaran pariwisata tahun ini juga naik Rp1 triliun dari Rp300 miliar menjadi Rp1,3 triliun. Untuk 2016 mungkin naik lagi menjadi Rp4,5 triliun."Itu baru Indonesia hampir sama dengan pasar, anggaran buat wismannya Rp3,5 triliun serta wisnus Rp1 triliun. Ini sangat bagus untuk promosi pariwisata pada 2016," terang Arief. Namun, untuk mencapai target wisman dan wisatawan Nusantara itu, cara berkomunikasi tentu berbeda. Sebagai orang marketing, dia menggunakan strategi pemasaran destinasi, originasi, serta timeline untuk promosi Indonesia ke mancanegara. "Destinasi utama Indonesia yang menyumbang 90% devisa dari pariwisata hanya tiga, yaitu Bali (40%), Jakarta (30%), dan Kepulauan Riau (20%). Inilah yang harus digenjot promosinya." Untuk strategi promosi, pihaknya menggunakan taktik promosi branding, advertising, dan selling (BAS). Dalam hal ini, Kemenpar akan melakukan kontrak dengan stasiun televisi seluruh dunia, beriklan, dan memberikan promo diskon paket-paket wisata.

"Kami juga akan mengembangkan 222 kawasan pengembangan pariwisata nasional (KPPN). Kami harap 5 tahun ke depan Indonesia mampu membangun 100 kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata.” Yang juga penting, agar pelaku industri pariwisata serta masyarakat Indonesia semangat mempromosikan destinasi wisata Nusantara, Arief mendeklarasikan Malaysia sebagai saingan terberat dalam pariwisata."Orang Indonesia harus outworld looking. Destinasi wisata di dunia bukan hanya di Indonesia. Saya taruh Malaysia sebagai saingan kita. Tanamkan itu pada pikiran, dan kalahkan atau setidaknya kita setara dengan mereka," pungkas Arief. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya