KOLABORASI antara pemerintah, pebisnis dan akademisi mutlak diperlukan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat. Sejak kembali dari Amerika Serikat, Founder & Chairwoman Martha Tilaar Group, Martha Tilaar bertekad menjadi tuan dan nyonya rumah dinegeri sendiri. Ia memilih bidang kecantikan sebagai sarananya untuk berkarya yang kini akan memasuki perjalanan ke-45 tahun. Pertimbangannya saat itu adalah potensi kekayaan alam dan budaya Indonesia yang belum digarap secara maksimal."Indonesia memiliki 30 ribu spesies herbal yang bermanfaat untuk medicine, aromatic, dan cosmetic," ujar Martha saat ditemui Media Indonesia di Jakarta, pekan lalu. Sayang, tekadnya saat itu terganjal minimnya informasi terkait tanaman herbal yang diperlukan. Ia tidak menemukan literatur yang bisa menjawab rasa keingintahuannya. Belakangan, eyangnya menyarankannya untuk berguru pada ahli pengobatan tradisional, termasuk dukun beranak. Meski peroleh cibiran, ia tak berhenti belajar dan mencatat segala informasi selagi mampu. "Sebab, satu dukun meninggal berarti satu perpustakaan terbakar," cetusnya. Informasi yang didapatnya tidak serta merta ditelannya mentah-mentah. Pola pikir Barat yang mengedepankan sains dan teknologi mendorongnya bertindak lebih jauh. Ia berinvestasi pada riset dan pengembangan untuk mengonfirmasi kebenaran informasi dari kearifan lokal menurut kaidah penelitian modern. Ia percaya jika hasil riset bisa meyakinkan konsumen pada produk yang dijualnya.
Sebagai contoh ialah risetnya atas manfaat buah langsat yang dipercayai mampu mencerahkan kulit. Hasil riset membuktikan kemampuan itu disebabkan kandungan antioksidan dan enzim tirosinase yang bisa memperlambat pembentukan melanin. Melanin ini berperan dalam proses penggelapan kulit. "Kami enggak bisa lagi ngomong ‘kata nenek moyang’. Masyarakat kita ini sudah semakin pintar," sahutnya. Di sisi lain, ia menyadari bahwa riset memerlukan proses panjang dan biaya mahal sebelum mampu menghasilkan dampak ekonomi. Karenanya, ia membuka kerja sama dengan pihak akademisi untuk mengakselerasi laju proses riset yang dilakoni tim R&D yang kini berjumlah 52 orang. Sejumlah kampus ternama kini menjalin kerja sama dengan Martha Tilaar Group, seperti Universitas Leiden, Belanda, dan Universitas Indonesia (UI). "Kami sudah bekerja sama dengan Leiden selama 15 tahun. Kami berencana menulis buku soal herbal bekerja sama dengan profesor-profesor di- Leiden. Dengan UI, kami bekerja sama membuka Magister herbal. Ini untuk pertama kalinya di Indonesia," tutur Martha. Gandeng UKM Tidak hanya akademisi, Martha menyadari bahwa kesuksesan usahanya harus disokong pula oleh pebisnis lainnya. Ia berinisiatif menggandeng kalangan usaha kecil dan menengah untuk maju bersama. Salah satunya dengan melatih para petani di 33 provinsi untuk menerapkan pertanian organik sejak prapanen hingga pasca-panen. "Itu supaya hasilnya homogen. Kalau tidak homogen, tidak bagus untuk ekstraksi," terangnya.
Rintisan kerja sama itu membuahkan sertifi kat ekologi Ecocert. Sertifikat tersebut dikeluarkan bagi produk-produk yang berlabel natural organik. Begitu pula dengan pabrik herbal yang beroperasi di Cikarang, Bekasi. Pihaknya baru saja memperoleh lisensi Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dari Badan POM. "Sedangkan untuk sertifi kat halal, sejak tahun 2009 kami sudah menyiapkan kelengkapan dokumen untuk proses Sistem Jaminan Halal (SJH) dan mulai tahun 2011 produkproduk kami mulai diaudit oleh Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI). Kami bersyukur PT Martina Berto Tbk sudah dua kali lulus audit, pada tahun 2012 dan 2014 dengan nilai implementasi SJH Grade A selama 2 kali berturut-turut " imbuhnya. Bukan perkara mudah bagi PT Martina Berto Tbk mendapatkan SJH. Ada 11 parameter SJH berdasarkan HAS 23000 yang harus dipenuhi, yaitu memiliki kebijakan halal, tim manajemen halal, pelatihan dan edukasi, bahan, produk, fasilitas produksi, prosedur tertulis aktivitas kritis, kemampuan telusur, penanganan produk yang tidak memenuhi kriteria, audit internal, serta kaji ulang manajemen. Pelatihan juga diberikan kepada para perempuan di bawah misi pemberdayaan. Sekitar 4.500 orang berhasil diberi keterampilan di bidang kecantikan agar mereka mandiri dan terlepas dari bahaya perdagangan manusia. Ia juga membuka Roemah Martha Tilaar di Gombong, Jawa Tengah, yang difungsikan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat setempat. Berbagai upaya tersebut mengantarkannya menjadi salah satu pendiri UN Global Compact, organisasi yang didirikan PBB untuk menghimpun dunia usaha mendukung tugas pemerintah, mewakili Indonesia.
"Mantan Sekjen PBB Kofi Anan menyatakan antara pemerintah, bisnis dan akademisi harus bekerja sama untuk menyejahterakan komunitas. Tapi, sayang pemerintah kita maunya kerja sendiri. Kalau sudah begitu, mau ke mana kita?" tanyanya retoris. Martha menegaskan, Indonesia tidak mungkin bisa makmur dengan cepat tanpa kerja sama. Ia menyayangkan karakter itu belum terbentuk dengan baik pada sebagian besar masyarakat Indonesia. Capaian kemajuan Indonesia yang hampir berusia 70 tahun lebih lambat jika dibandingkan dengan apa yang diperoleh Kazakhstan yang pada tahun 2012 baru merdeka 19 tahun. "Geografi Indonesia memang terdiri dari pulau-pulau, tapi kalau pemimpinnya nasionalis pasti bisa," tegasnya.