BERBICARA tentang energi, yang biasa diketahui masyarakat adalah minyak dan gas bumi (migas). Padahal, data pemerintah dan Dewan Energi Nasional (DEN) menunjukkan negeri ini punya banyak jenis sumber energi potensial, baik untuk dijadikan bahan bakar maupun tenaga listrik. Indonesia tercatat menyimpan potensi air untuk menghasilkan listrik sebesar 75 gigawatt (Gw), surya sebesar 112 Gw, panas bumi sebesar 28,8 Gw, dan angin sebesar 950 megawatt (Mw). Selain itu masih ada potensi energi dari biomassa sebesar 32 Gw, bahan bakar nabati sebesar 32 Gw, dan energi laut sebesar 60 Gw. Melihat potensi itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan ingin serius dalam menggenjot program diversifi - kasi energi. Apalagi, kebutuhan kian mendesak dengan prediksi stok produksi minyak bumi akan habis dalam 13 tahun ke depan. Upaya untuk menambah stok pun kian mahal karena cadangan migas yang masih banyak tersisa berada di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau. Masyarakat tidak bisa lagi bergantung pada energi fosil tersebut. Target telah dicanangkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) No 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional. Dalam PP itu, energi baru dan terbarukan (EBT) pada 2025 akan memakan porsi 23% total bauran energi nasional. Saat ini porsi EBT baru 6% dari total bauran energi.
Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan pihaknya sudah menyusun road map untuk mencapai cita-cita diversifi kasi energi tersebut. Konversi minyak ke gas, revisi feed in tariff (harga pembelian listrik oleh PLN) untuk semua pembangkit listrik bertenaga EBT, dan kebijakan pendukung lainnya, dilaksanakan pemerintah untuk menyediakan energi yang beragam. Sudirman mengakui keengganan masyarakat untuk memakai energi baru dapat menjadi kendala. Pemerintah akan berusaha keras meyakinkan rakyat melalui sosialisasi dan keajekan kebijakan. "Untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat perlu waktu. Kuncinya, konsistensi. Kebijakannya dibikin, dilaksanakan, dan sumber dayanya digunakan," ujar Sudirman di Jakarta, pekan lalu. Mantan Dirut PT Pindad itu juga telah mengeluarkan kebijakan meningkatkan porsi bahan bakar nabati (BBN) dalam bauran solar, dari yang semula 10% (B10) menjadi 15% (B15), sejak Juli lalu. Besaran itu rencananya akan ditingkatkan lagi menjadi 20% (B20) pada tahun depan. Kementerian ESDM juga akan membuat program prioritas untuk mengalirkan gas ke 25 kota yang dekat dengan sumber dan infrastruktur gas melalui jaringan gas kota (jargas). Hal itu sudah diakomodasi pemerintah melalui Permen ESDM No 29 Tahun 2015. PT Pertamina (persero) dan PT Perusahaan Gas Negara (persero) ditunjuk sebagai pelaksana.
Harus fokus Tingginya ragam sumber energi potensial memang menjadi sisi positif dalam upaya mewujudkan ketahanan energi. Namun, pengamat energi dari Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto menyarankan pemerintah lebih fokus terhadap jenisjenis energi yang paling potensial dikembangkan. "Mesti ada prioritas. Pilih yang penting dan lakukan dalam skala yang besar. Kalau semuanya kecil-kecil, tidak akan dirasakan masyarakat," ucap Pri Agung. Jenis energi yang menurutnya lebih mudah dan sederhana untuk dikembangkan ialah gas dan BBN. Apalagi ia melihat pemerintah sangat berupaya untuk mendorong konversi minyak ke gas. Pembangunan 22 SPBG yang masuk ke APBN-P 2015 dinilainya termasuk kebijakan yang progresif, meski belum mampu mengonversi banyak kendaraan. Jaringan gas kota juga dipandangnya sudah mulai digenjot dan perlu skala yang lebih besar lagi di Jawa dan Sumatra agar dirasakan banyak masyarakat. (E-1)