PASCAPELANTIKANNYA menjadi menko perekonomian, Darmin Nasution membeberkan empat langkah prioritas kementerian koordinator yang di pimpinnya dalam menjalankan amanah negara. Keempat program yang menjadi fokus utama mantan Gubernur Bank Indonesia tersebut ialah persoalan pangan, inflasi, percepatan serapan anggaran belanja, dan investasi.
"Pangan memiliki sangkutan dengan inflasi dan kekeringan. Pesan Presiden sama dengan pemikiran saya, yaitu urusan pangan," kata Darmin seusai serah terima jabatan dengan menko perekonomian sebelumnya, Sofyan Djalil, yang kini menempati pos baru sebagai Kepala Bappenas, kemarin.
Dalam laporan Badan Pusat Statistik, inflasi hingga Juli 2015 tercatat 1,90% atau lebih rendah dibanding capaian periode sama tahun lalu sebesar 2,91%. Pemerintah mematok inflasi 5% dalam APBN Perubahan 2015. Sesuai arahan Presiden, Darmin juga menempatkan percepatan serapan belanja sebagai prioritas kerja.
"Setelah pangan dan inflasi yang mendesak itu, fiskal dan penerimaan." Darmin beralasan pemerintah mesti mencari solusi untuk mendorong penerimaan negara sebesar-besarnya dengan tetap menjaga daya beli masyarakat. "Program pemerintah itu bertumpu pada anggaran. Tidak bisa dikarang-karang, uangnya dari mana."
Sebelumnya, Kementerian Keuangan melaporkan penyerapan belanja kementerian/lembaga semester pertama tergolong rendah, yakni Rp208,5 triliun atau 26% dari pagu APBN Perubahan sebesar Rp795,5 triliun. Hal lain yang tidak kalah penting, lanjut Darmin, ialah peningkatan investasi. "Kita kekurangan capital inflow sehingga rupiah berfluktuasi."
Selama triwulan kedua, Badan Koordinasi Penanaman Modal mencatat realisasi investasi proyek penanaman modal sebesar Rp131,5 triliun. Capaian ini meningkat 16,3% dari periode sama tahun lalu sebesar Rp116,2 triliun. Proporsi realisasi investasi tersebut didominasi perusahaan asing sebesar 68,2% atau Rp92,2 triliun.
Adapun penanaman modal domestik mengambil porsi 31,8% atau Rp42,9 triliun. Ketika disinggung dari mana datangnya capital inflow. Darmin mengakui sumbernya bisa berasal dari investor asing, pengusaha lokal, dan penerbitan obligasi negara. "Investasi diperlukan di tengah seretnya perekonomian dunia. Kita sedang perlu-perlunya."
Bergerak cepat Presiden Joko Widodo menyatakan perombakan kabinet ini sebagai respons terhadap dinamika perekonomian global yang nyata memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional. "Beliau ingin pemerintahan efektif, efisien, dan bergerak cepat meningkatkan hubungan dengan kalangan internasional," ungkap Mensesneg Pratikno di Istana Negara, kemarin.
Kemarin, Presiden melantik Menko Perekonomian Darmin Nasution menggantikan Sofyan Djalil, Menko Polhukam Luhut Pandjaitan menggantikan Tedjo Edhy Purdijatno, Menko Kemaritiman Rizal Ramli menggantikan Indroyono Soesilo, Sekretaris Kabinet Pramono Anung menggantikan Andi Widjajanto, Mendag Thomas Trikasih Lembong menggantikan Rachmat Gobel, dan Kepala Bappenas Sofyan Djalil menggantikan Andrinof Chaniago.