Sekolah Tinggi tidak Cerminkan Gaji

Anastasia Arvirianty
23/8/2016 09:00
Sekolah Tinggi tidak Cerminkan Gaji
(MI/Tiyok)

LOGIKA yang menuntun orang untuk berpikir pendidikan tinggi menjadi jaminan kesuksesan dan kemakmuran mereka di masa depan ialah hal yang lumrah.

Namun, saat persaingan kerja semakin ketat, mereka yang terus berupaya mengejar ilmu setinggi-tingginya juga harus bersiap menghadapi risiko penurunan pendapatan.

Setidaknya, itulah hasil penelitian Institute for Fiscal Studies (IFS) di Inggris yang mengungkapkan adanya perbedaan substansial dalam pendapatan cenderung menurun di masa depan karena lebih banyak orang mengejar pendidikan tinggi.

"Saat ini lulusan universitas menikmati keuntungan (gaji dan fasilitas) lebih tinggi di dunia kerja daripada mereka yang nonsarjana. Namun, ada tanda-tanda kesenjangan itu segera menyusut karena semakin banyak remaja dari level A (SMA sederajat) yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi," demikian hasil riset IFS seperti dirilis Theguardian.com, pekan lalu.

Peningkatan jumlah peminat pendidikan lanjut, menurut IFS, terlihat dalam jumlah biaya sekolah yang meningkat. Terbukti, Universitas Exeter berencana menaikkan biaya kuliah menjadi 9.250 pound sterling untuk siswa lama, bukan hanya mahasiswa baru. Tidak hanya itu, beberapa universitas telah menerapkan kenaikan biaya hanya untuk mahasiswa baru, mulai studi mereka pada 2017.

Sebuah laporan baru dari Social Market Foundation (SMF) menemukan mereka yang masuk dengan kualifikasi kejuruan, seperti Btecs (bisnis teknologi rekayasa), meningkat drastis daripada peminat dari level A.

Antara 2008 dan 2015, siswa yang memasuki pendidikan tinggi dengan level A meningkat 19% daripada para pemegang sertifikat Btecs yang naik 116%.

Seorang mahasiswa pada program sarjana tiga tahun akan mengambil pinjaman untuk lulus dengan mengandalkan utang senilai lebih dari 50 ribu pound sterling. Saat ia lulus, setidaknya ia harus memiliki gaji yang cukup untuk membayar cicilan utangnya.

"Akibatnya, sarjana dengan latar belakang Btecs butuh penghasilan per jam lebih tinggi 20% daripada mereka yang hanya mengandalkan Btecs."

PAdahal menurut IFS, upah rata-rata baik untuk lulusan dan nonlulusan turun 15% antara 2008 dan 2015. Namun, perbedaan upah antara lulusan dan mereka yang meninggalkan sekolah ada di sekitar 35% selama dua dekade terakhir.

Dalam konteks di Tanah Air, pendidikan tinggi mungkin menjadi salah satu sumber penciptaan sumber daya manusia (SDM) unggul. Namun, parameter yang sekadar berbasis pada pendidikan dan gelar akademik formal itu juga harus diapresiasi sewajarnya.

Setidaknya, dunia kerja harus bisa memperhitungkan keahlian dari pengalaman dan juga memberikan porsi besar untuk para lulusan sekolah kejuruan dan balai latihan kerja yang justru lebih siap mengaplikasikan keahlian.(E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya