Pasar Modal makin Manis

Nuriman Jayabuana
11/8/2015 00:00
Pasar Modal makin Manis
()
OJK telah menaikkan dana perlindungan investor dari Rp25 juta menjadi Rp100 juta. PASAR modal siap menjadi alternatif sumber pembiayaan jangka panjang. Untuk memperkuat pendanaan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempermanis investasi pasar modal di mata investor dengan memperkukuh perlindungan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad mengatakan selama lima tahun terakhir pasar modal berhasil menggalang dana Rp595 triliun dari penerbitan saham dan obligasi. "Kapitalisasi hingga awal bulan hampir Rp5.000 triliun, naik lebih dari 60% dalam lima tahun," ungkapnya pada peringatan 38 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia, di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, kemarin.

BUMN dan perusahaan swasta didorong segera memanfaatkan pasar modal untuk memobilisasi dana investasi. Kesempatan pun terbuka untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). "Dalam waktu tidak lama pedoman untuk UMKM go public akan keluar," ujar Muliaman. Adapun untuk memancing lebih banyak investor, khususnya yang berasal dari dalam negeri, OJK menaikkan dana perlindungan investor dari sebelumnya Rp25 juta menjadi Rp100 juta. Dana itu untuk ganti rugi kepada investor pasar modal atas kehilangan aset akibat kesalahan atau pelanggaran peraturan yang dilakukan perusahaan efek maupun bank kustodian.

Dana perlindungan dikelola PT Penyelenggara Program Perlindungan Investor Efek Indonesia (P3IEI) yang sudah beroperasi penuh sejak 1 Januari 2014. P3IEI berfungsi seperti Lembaga Penjamin Simpanan di perbankan. Upaya memperbanyak investor domestik di pasar mo-dal juga dibantu perusahaan tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) dengan membukakan rekening efek bagi 10 ribu karyawannya.

"Mereka akan dapat keuntungan, misalnya nanti kalau ada program Sritex atau aksi korporasi, mereka bisa dapat bonus saham Sritex, dan sebagainya. Tentunya dengan mengajukan izin bagi-bagi saham dulu ke OJK," tutur Direktur Utama PT Sritex Iwan Setiawan Lukminto, di kesempatan yang sama.

Pada pidato pembukaan peringatan 38 tahun diaktifkannya kembali pasar mo-dal Indonesia, Presiden Joko Widodo mengimbau pelaku pasar tetap optimisitis di tengah perlambatan laju pertumbuhan ekonomi. Pemerintah sedang getol mengejar target pembangunan infrastruktur. Pertumbuhan ekonomi akan melaju lebih cepat. "Yang sekarang diperlukan ialah perubahan persepsi. Memang mendapatkan kepercayaan publik tidak mudah, harus realisasi dulu. Tapi kan realisasi butuh waktu, progresnya ada," papar Presiden.

Sanksi daerah
Di lain hal, untuk memacu serapan belanja daerah, pemerintah menyiapkan aturan konversi transfer daerah dengan surat utang negara bertenor pendek atau surat berharga negara (SBN). Semakin banyak dana daerah yang mengendap di bank-bank daerah, semakin besar dana transfer daerah yang dikonversi ke SBN.

"Misalnya triwulan ini (transfer daerah) dicairkan sekian, dilihat (dana mangkrak) masih banyak bisa saja, satu triwulan itu jatahnya SBN semua. Triwulan berikutnya bisa aja kombinasi," jelas Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan Askolani di Jakarta, kemarin. Hingga akhir Juni lalu total dana mangkrak daerah mencapai Rp273,5 triliun. Dirjen Perimbangan Keuangan Kemenkeu Budiarso Teguh Widodo mengungkap Provinsi DKI Jakarta merupakan provinsi dengan dana mangkrak terbesar, diikuti Jawa Barat, Riau, Papua, dan Kalimantan Timur.

"Sedangkan tujuh simpanan besar pemkab di perbankan yaitu wilayah Kutai Kartane- gara, Malang, Bengkalis, Berau, Bogor, Bekasi, dan Ban-dung," jelas Budiarso kepada Media Indonesia melalui pesan singkat. (Arv/Fat/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya