Untuk mengembangkan penguasaan teknologi migas dan
energi baru terbarukan, Pertamina menggandeng Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi. PT Pertamina (persero) memperluas pemasaran bahan
bakar minyak (BBM) pertalite dengan menambah jumlah dan cakupan wilayah
pemasaran melalui penambahan 48 stasiun pengisian bahan bakar umum
(SPBU) di 34 kabupaten/kota. Pangsa pasar bensin RON 90 itu pun kini
mencapai 13% dan mengurangi konsumsi BBM bersubsidi jenis premium.
"Selama
uji pasar sejak 24 Juli 2015, konsumsi pertalite terus positif. Market
share pertalite naik hingga 13%, sementara pangsa pasar premium turun
menjadi sekitar 68% dari 79%," papar Vice President of Corporate
Communication of Pertamina Wianda Pusponegoro di Jakarta, kemarin.
Menurutnya,
tambahan 48 SPBU dari awalnya 115 unit yang menjual pertalite karena
permintaan masyarakat melalui media massa maupun contact center
Pertamina. "Sejak 9 Agustus 2015 jumlah SPBU yang menjual pertalite
mencapai 163 SPBU yang terdiri dari 95 SPBU di wilayah Pertamina
Marketing Operation Region (MOR) III (Jawa bagian barat) dan 69 titik
SPBU di wilayah Pertamina MOR V (Jatim, Bali, dan Nusa Tenggara),"
tuturnya.
Berdasarkan sebaran SPBU, penjualan pertalite telah
ditambah dari 23 menjadi 34 kota/kabupaten. Tambahan tersebut meliputi
Bogor, Depok, dan Sumedang di MOR III. Adapun Badung, Gianyar, Denpasar,
Bojonegoro, Nganjuk, Kediri, serta Pasuruan di MOR V. Sebelumnya,
Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang menargetkan hingga akhir
tahun penjualan pertalite bisa menggeser konsumsi premium 20%-30%.
"Itu
untuk mengurangi kerugian dari penjualan premium dan solar yang
mencapai Rp12,6 triliun hingga Juli 2015. Paling tidak 500 SPBU siap
menjual pertalite sampai akhir tahun," katanya.
Gandeng BPPT Untuk
mengembangkan pe-nguasaan teknologi migas dan energi baru terbarukan
(EBT), Pertamina juga menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT). "Semoga dapat menggantikan kinerja rekayasa
(engi-neering) yang selama ini masih mengandalkan asing. Kami ingin BPPT
turut serta dalam proyek Pertamina. Pokoknya kita harapkan 10% dari
capex (belanja modal) bisa dimanfaatkan untuk engineering dalam negeri,"
kata Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto seusai penandatanganan
kerja sama tersebut di Jakarta, kemarin.
Salah satunya penggunaan
limbah kelapa sawit untuk dijadikan sumber energi (biomassa) yang bakal
digarap bersama Pelindo I di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei di
Sumatra Utara. Menteri ESDM Sudirman Said menyatakan sudah saatnya BPPT
diberdayakan. "Selama ini FS (feasibility studies) dan FE (front and end
engineering design) pakai konsultan perencanaan. Nah, saatnya kita
pakai BPPT," tuturnya.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman
Indroyono Soesilo menyebut hasil kajian awal rancang bangun antara
Kementerian ESDM dan BPPT mencapai Rp50 miliar. "Semoga lewat kerja sama
ini akan muncul infrastruktur energi Rp1 triliun-Rp2 triliun."
Sementara itu, Wapres Jusuf Kalla mengarahkan BPPT menjadi b