Pertamina Tambah Area dan SPBU Pertalite

Jessica Sihite
11/8/2015 00:00
Pertamina Tambah Area dan SPBU Pertalite
(MI/RAMDANI)
Untuk mengembangkan penguasaan teknologi migas dan energi baru terbarukan, Pertamina menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. PT Pertamina (persero) memperluas pemasaran bahan bakar minyak (BBM) pertalite dengan menambah jumlah dan cakupan wilayah pemasaran melalui penambahan 48 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di 34 kabupaten/kota. Pangsa pasar bensin RON 90 itu pun kini mencapai 13% dan mengurangi konsumsi BBM bersubsidi jenis premium.

"Selama uji pasar sejak 24 Juli 2015, konsumsi pertalite terus positif. Market share pertalite naik hingga 13%, sementara pangsa pasar premium turun menjadi sekitar 68% dari 79%," papar Vice President of Corporate Communication of Pertamina Wianda Pusponegoro di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, tambahan 48 SPBU dari awalnya 115 unit yang menjual pertalite karena permintaan masyarakat melalui media massa maupun contact center Pertamina. "Sejak 9 Agustus 2015 jumlah SPBU yang menjual pertalite mencapai 163 SPBU yang terdiri dari 95 SPBU di wilayah Pertamina Marketing Operation Region (MOR) III (Jawa bagian barat) dan 69 titik SPBU di wilayah Pertamina MOR V (Jatim, Bali, dan Nusa Tenggara)," tuturnya.

Berdasarkan sebaran SPBU, penjualan pertalite telah ditambah dari 23 menjadi 34 kota/kabupaten. Tambahan tersebut meliputi Bogor, Depok, dan Sumedang di MOR III. Adapun Badung, Gianyar, Denpasar, Bojonegoro, Nganjuk, Kediri, serta Pasuruan di MOR V. Sebelumnya, Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang menargetkan hingga akhir tahun penjualan pertalite bisa menggeser konsumsi premium 20%-30%.

"Itu untuk mengurangi kerugian dari penjualan premium dan solar yang mencapai Rp12,6 triliun hingga Juli 2015. Paling tidak 500 SPBU siap menjual pertalite sampai akhir tahun," katanya.

Gandeng BPPT
Untuk mengembangkan pe-nguasaan teknologi migas dan energi baru terbarukan (EBT), Pertamina juga menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). "Semoga dapat menggantikan kinerja rekayasa (engi-neering) yang selama ini masih mengandalkan asing. Kami ingin BPPT turut serta dalam proyek Pertamina. Pokoknya kita harapkan 10% dari capex (belanja modal) bisa dimanfaatkan untuk engineering dalam negeri," kata Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto seusai penandatanganan kerja sama tersebut di Jakarta, kemarin.

Salah satunya penggunaan limbah kelapa sawit untuk dijadikan sumber energi (biomassa) yang bakal digarap bersama Pelindo I di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei di Sumatra Utara. Menteri ESDM Sudirman Said menyatakan sudah saatnya BPPT diberdayakan. "Selama ini FS (feasibility studies) dan FE (front and end engineering design) pakai konsultan perencanaan. Nah, saatnya kita pakai BPPT," tuturnya.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo menyebut hasil kajian awal rancang bangun antara Kementerian ESDM dan BPPT mencapai Rp50 miliar. "Semoga lewat kerja sama ini akan muncul infrastruktur energi Rp1 triliun-Rp2 triliun." Sementara itu, Wapres Jusuf Kalla mengarahkan BPPT menjadi b



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya