Perdagangan Sehat, Ketahanan Pangan Menguat

Jessicca Sihite
22/8/2016 11:15
Perdagangan Sehat, Ketahanan Pangan Menguat
(Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita---MI/Galih Pradipta)

UPAYA menciptakan stabilitas harga bahan pokok menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintah yang belum terselesaikan hingga kini. Tugas itulah yang diemban Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita sejak dilantik Presiden Joko Widodo pada 26 Juli 2016.

Berikut petikan wawancara khusus Wartawan Media Indonesia Gabriela Jessica Restiana Sihite dengan Enggar, sapaan akrabnya, di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (19/8) malam.

Apa fokus yang diminta Presiden di sektor perdagangan?
Nawa Cita menjadi satu pegangan kami, para menteri. Presiden telah meminta tiga hal sebagai tugas prioritas. Pertama, pangan. Untuk pangan sendiri, ada tiga aspek yang diminta menjadi perhatian, yaitu tersedianya pasokan pangan. Jangan sampai terjadi kekurangan pangan, terutama bahan pokok. Bahan pokok yang mendapat perhatian khusus ialah beras, gula, daging sapi, dan jagung, terutama untuk pakan ternak. Perhatian lain untuk pangan ialah stabilitas dan keterjangkauan harga. Jadi, memang harus turun, tapi tidak fluktuatif.

Kalau hanya dua perhatian ini, sebenarnya sederhana penyelesaiannya. Impor saja, selesai. Namun, perhatian yang ketiga dan ini menjadi satu kesatuan ialah serap seluruh produksi dalam negeri.

Fokus kedua yang diminta Presiden ialah jaga betul neraca perdagangan. Bukan hanya semata-mata agar kita tidak defisit, melainkan juga harus ada pertumbuhan. Fokus ketiga, pasar tradisional rakyat.

Lalu, apa muara dari semua fokus ini? Muaranya kesejahteraan rakyat dengan menjaga bagaimana mengurangi dan mengatasi kemiskinan karena kalau harga naik akan ada inflasi, kemiskinan akan naik. Kalau produksi petani dan peternak tidak diserap, petani yang semakin miskin. Kalau neraca kita positif, ekspor tinggi, sudah tentu daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi akan didorong dari itu. Nah, pasar tradisional itu akan membantu satu proses transaksi dan itu dibantu APBN.

Bagaimana Anda akan menjalankannya?
Seminggu setelah menjadi menteri, saya segera berhubungan dengan Pak Menteri Pertanian (Mentan). Kenapa? Karena beliaulah yang bertanggung jawab di poin pertama di fokus pembenahan pangan.

Dia sudah luar biasa karena sudah mendorong petani untuk memproduksi. Namun, akan sayang kalau sudah berproduksi ternyata tidak ada yang mau membeli. Ke depan bisa tidak ada yang mau bertanam lagi. Untuk itu, saya dengan Mentan meminta saat rakor di Kemenko Perekonomian dan persetujuan Presiden bahwa Perum Bulog mendapat penugasan membeli berapa pun hasil panen dari petani dengan HPP yang kita tetapkan.

Sekarang sedang kita buat kesepakatan dengan Mentan terkait HPP komoditas pangan yang utama kita garap. Lalu akan ada harga eceran tertinggi (HET) untuk masyarakat. Kalau hasil produksi petani di bawah HPP, Bulog harus beli. Jadi, petani jangan khawatir karena akan dibeli semua yang dipanen oleh Bulog.

Pembenahan untuk harga dan pasokan daging sapi?
Sapi hidup dulu. Kita punya sapi bakalan yang harus digemukkan dulu, baru setelah 90 hari dipotong. Kalau itu kita biarkan terus, seumur hidup kita tidak akan bisa swasembada daging. Harga sapi di peternak sapi juga kenapa tinggi? Karena dia membibit dari kecil. Rakyat kecil ini dengan lamanya proses beternak, dia kan pasti butuh uang di tengah jalan. Dia pinjamlah ke belantik atau dari lain dengan bunga tinggi. Jadi, harga sapi tinggi karena ada utang dengan yang lain dan itu sudah semacam diijon.

Dari gambaran ini saja, tampak sekali terjadi ketidakadilan. Rakyat disuruh beternak sapi, pengusaha jadi potong sapi. Yang usaha rakyat long term, yang pengusaha short term. Ini kan harus dibalik. Jadi, kita sudah bilang ke pengusaha feedloter (penggemukan sapi), kamu mau impor silakan, tapi harus ada road map-nya. Nanti pada usia tertentu yang kami akan koordinasi lagi dengan Kementan (Kementerian Pertanian), pada satu titik tertentu, rakyat beli dari pengusaha ini.

Pendanaannya dari mana?
Kita carikan uang dari bank. Lalu apa jaminannya? Sapi dan ada off taker-nya yang pembeli sapinya. Pembelinya kita bisa intervensi antara Bulog dan si pemotong sapi atau feedloter ini. Jadi, sekarang kita sapi bibitnya boleh impor. Saya tidak takut karena akan beranak pinak nantinya. Malah kita berencana peternakan sapi akan dibagi dua, yang susu dan yang daging. Dengan demikian, ada peningkatan untuk produksi susu juga. Jadi, kita punya satu road map ke depan. Itu long term.

Lalu bagaimana dengan kebijakan short term? Feedloter ini harus diperbolehkan impor, tapi berapa impornya? Kamu kasih dulu ke saya rencana kamu ke depan. Jumlahnya disesuaikan dengan rasio. Rasionya berapa? Ajukan dulu proposalnya ke saya. Saya tunggu 1-2 minggu.

Apa kebijakan lain untuk stabilitas harga daging?
Di luar sapi, kita sudah mengeluarkan izin impor daging beku. Jalani saja, tidak apa-apa. Namun, sapi rakyat tetap akan kita beli, tidak usah takut. Persoalannya memang, ada satu PR saya, yakni mengatasi jaringan perdagangan daging yang lebih dari 7 mata rantai. Dari peternak sapi, belantik, calo, perantara, pedagang, hingga segala macam.

Perihal daging beku yang kurang diminati masyarakat?
Ada temuan setelah saya turun. Bagaimana rakyat mau beli kalau banyakan lemaknya daripada dagingnya atau seimbang? Jadi kalau dijual Rp80 ribu per kg sama saja dengan yang dijual Rp130 ribu per kg karena sama kadar lemak dan dagingnya. Nah ini siapa importirnya? Kita akan panggil. Kalau mau bermain dengan itu, kita cabut izin impornya.

Pada dasarnya daging beku lebih higienis. Berbagai penyakit mati. Kalau makan di hotel dan restoran, itu daging beku semua, tapi rakyat dibilang daging beku tidak sehat. Bagaimana bisa? Ini satu promosi negatif yang dilakukan pedagang yang berkepentingan di pemotongan sapi langsung.

Bagaimana kebijakan Anda soal gula?
Ada gula tebu dan rafinasi yang katanya untuk makanan dan minuman, tetapi bocor ke pasar. Saya tidak mau masuk ke situ, tapi memang ada kesenjangan antara supply dan demand. Mengisi itu memang perlu impor. Lalu, kita dihadapkan dengan demo petani tebu dan matinya industri pabrik gula tebu kalau kita terus impor. Jadi, saya sudah ajak bicara pengusaha gula rafinasi dan importir. Saya kasih jatah kuota impor, senang kan? Tapi ada catatannya. Harus ekstensifikasi dan intensifikasi lahan tebu dengan konsep inti plasma. Saya juga tidak mau pengusaha borong tanah sebanyak-banyaknya.

Apa upaya untuk mengontrol mereka?
Saya buat surat persetujuan dengan sanksi pabrik kamu kasih ke saya kalau tidak demikian. Baru mereka diam. Catatan lain dari saya adalah harga gula sampai ke pasar maksimal Rp13 ribu per kg. Sekarang Rp15.500-Rp16.000 per kg. Karena harga gula lagi naik, saya kasih patokan segitu, tapi kalau turun saya patok Rp12 ribu per kg. Kalau tidak mau, ya saya impor sendiri, kerja sendiri. Untuk kepentingan rakyat kok ini.

Bagaimana dengan jagung?
Jagung akan gunakan pola yang mirip. Jadi, impor jagung sekarang turun, tapi impor gandum naik. Mentan sudah dorong orang tanam jagung, tapi tidak dibeli. Jadi, Bulog sebagai penyerap lagi. Saya pun sudah memanggil Gabungan Asosiasi Pakan Ternak. Saya suruh mereka serap dulu jagung kita. Kalau tidak, saya tidak kasih izin impor jagung dan gandum. Pucat mereka.

Kalau sudah serap dan masih kurang, saya baru kasih impor. Lalu saya panggil pengusaha jagung yang besar. You bikin dryer dan silo untuk pengering dan gudang. Saat itu mereka bilang tingkat keekonomiannya kurang. Saya langsung tawarkan hitung sini. Saya ini termasuk orang yang punya keahlian hitung rezeki orang. Jadi kalau dibilang enggak untung, ayo kasih tahu gue hitungannya berapa.

Tapi pengusaha sering klaim kekurangan stok dan mengatakan data pemerintah itu tidak sesuai dengan yang di lapangan?
Sederhana saja, serap dulu semuanya jagung dari petani. Saya tidak mau dengar ada petani jagung yang tidak terserap. Mereka pasti tahu di mana daerah yang kelebihan panen jagung. Kalau tidak paham, mereka tanya Kementan.

Untuk harga acuan 4 komoditas pangan utama berapa lama bisa kelar?
Minggu depan (ini) sudah jadi karena saya tinggal minta clearance lagi dari Kementerian Pertanian. Dari situ baru ada harga penugasan karena ada konsekuensi anggaran (untuk Bulog)

Persoalan pangan selain soal pasokan, ada mata rantai yang ternyata membuat harga pangan mahal. Bagaimana Bapak akan mengatasi ini?
Persoalan berikutnya, yaitu jaringan distribusi dan ada pengendalian dari beberapa distributor. Dia menahan stok atau menimbun dan mau mendapatkan untung sebesar-besarnya. Saya akan buat aturan sebagai entry point bisa razia gudang-gudang distributor. Kami tidak mau didikte dan diatur. Saya pengusaha kok, saya tahu. Saya akan kasih untung, tapi jangan gede-gede. Kemarin saya sudah panggil Kadin. Saya bilang ke mereka, enough is enough. Kalau melakukan itu, kamu berhadapan dengan pemerintah dan pemerintah satu bersama dengan Mentan, Bea dan Cukai, dan Polri.

Bagaimana dengan wacana memotong rantai di pasar di Jakarta?
Jadi, kita bicara dengan PD Pasar Jaya dan Gubernur DKI Jakarta (Ahok). Operasi Pasar (OP) akan kita lakukan kalau terpaksa, tapi PD Pasar Jaya akan menjadi semigrosir untuk suplai dari Bulog, tapi harganya harus menguntungkan pedagang pasar di dalam itu.

Selain itu, kita pun akan kembangkan pasar dengan online. Saya senang dengan anak muda yang buat 5kilo.com. Saya undang bapak angkat yang men-support bisnis itu. Kalau semua mata rantai bisa dipotong, harga akan mengalami penyesuaian.

Butuh waktu berapa lama?
Saya berharap dalam 5-7 tahun ini selesai dan kita mandiri. Tapi semua <>stakeholder harus terlibat. Saya akan terus turun ke lapangan. Mentan sudah sering memantau ke lapangan.

Apa masalahnya itu?
Pupuk. Bagaimana masyarakat menerjemahkan peraturan Mentan dari pabrik harus lewat distributor, supplier, baru ke gapoktan atau petani. Ternyata penjelasan peraturan yang ada malah diartikan baku sehingga membuat mata rantai panjang dan penyaluran pupuk menjadi susah. Padahal, benarnya peraturan itu bisa diterjemahkan untuk pembelian pupuk langsung dari pabrik ke gapoktan.

Penyelesaiannya revisi permendag?
Waktu itu pilihannya, aturan itu dicabut atau direvisi. Saya langsung rapat internal, pasal 16 yang diminta direvisi. Jadi, kami langsung selesaikan supaya tidak ada lagi perbedaan dengan Menteri Pertanian. Minggu depan selesai revisi itu. Jadi teratasi karena kalau penjualan pupuk dengan jaringan sepanjang itu, ada pungutan di setiap mata rantai, makanya biaya produksi petani jadi naik.

Bagaimana rencana kerja Bapak di sektor ekspor-impor barang nonpertanian pangan?
Seperti yang diperintahkan Presiden pada fokus kedua, jaga neraca perdagangan. Artinya, ekspor harus didorong.

Ekspor kita akan buka pasar baru di luar pasar tradisional. Contohnya, Iran. Sekarang neraca perdagangan kita dengan India dan Pakistan surplus. Mereka minta kita untuk impor barang dari mereka. Oke. Yang kita impor pun yang kita butuh, yakni beras dari india. Beras dia tidak kita suka, tapi mereka suka. Begitu sebaliknya. Pasar India dan Pakistan harus kita dorong karena pertumbuhan ekonomi India bagus dan jumlah penduduknya besar. Menteri Perindustrian juga pelaku ekonomi juga kita minta menjaga kualitas produk industri kita.

Hal lain untuk mengurangi impor barang konsumsi adalah menjaga pasar domestik karena penduduk kita yang sampai 250 juta orang sangat diincar dunia. Makanya, kita akan terus promosikan produk asli Indonesia dengan terus mengumandangkan Aku Cinta Produk Indonesia.

Apa bentuk upaya menaikkan ekspor kita dengan mempermudah usaha daring yang Anda canangkan?
Iya. Seperti di Cirebon sudah kami resmikan 10 kampung digital. Jadi mereka sudah bisa melakukan usaha online untuk pasar domestik dan internasional. Dunia ini sudah menjadi satu. Kalau kita tidak siap, kita yang susah. Dalam waktu singkat akan ada paket kebijakan yang menyangkut e-commerce. Namun, itu tunggu kantor Kemenko Perekonomian.

Bagaimana dengan fokus kerja ketiga dari Presiden, yakni tentang pasar?
Untuk anggaran berikutnya, tidak akan ada renovasi, tapi bangun pasar. Kita akan membuat purwarupa lengkap dengan desainnya. Kita akan pakai konsultan arsitek dari BSD (Bumi Serpong Damai) karena pasar BSD jadi percontohan. Duitnya dari mereka dulu, baru serah terimakan ke saya.

Bagaimana nasib program 1.000 pasar per tahun?
Saya tidak mau masuk ke pasar yang konsumen dan penjualannya kuat di kota. Saya mau menyasar ke desa dan kecamatan karena biaya relatif murah dan rakyat membutuhkan. Negara kan hadir untuk masyarakat yang membutuhkan dan tidak berkemampuan. Bagi yang sudah berkemampuan, biarkan mekanisme pasar yang berjalan. Nah, bagaimana anggarannya? Untuk pasar tipe C, misalnya, Rp10 miliar nilai pembangunannya.

Lalu, saya punya Rp6 miliar, saya akan tawarkan ke daerah pakai dana mereka untuk menutupi sisanya. Mau pakai dana desa, dana kabupaten, pokoknya gunakan itu untuk yang berguna buat rakyat. Banyak daerah yang mau kok. Pendekatan ini adalah pendekatan kualitas. Jadi, rakyat sehat dan higienis.

Sementara itu, 1.000 pasar tetap punya target, tapi kita harus realistis karena anggaran kita juga dipotong. Pilihannya, revitalisasi dengan cat 1.000 pasar atau kita kurangi jumlah pasarnya.

Bagaimana dengan rencana kerja di sektor kerja sama bilateral dan pakta perdagangan internasional yang sebelumnya digenjot Kementerian Perdagangan?
Kenapa saya konsentrasi ke domestik sekarang ini? Karena saya berterima kasih dengan Pak Tom Lembong (menteri sebelumnya) sudah menyelesaikan tugas yang menyangkut pakta perdagangan internasional. Itu saja. Jadi sederhana. Saya tetap minta bantuan Pak Tom untuk menindaklanjuti, apalagi beliau sudah menjadi Ketua BKPM. Itu bidangnya.

Pemotongan anggaran Kemendag sampai Rp1,3 triliun akan berdampak pada program utama?
Saya masih lihat potensi self-blocking kita. Yang belum kontrak dan bukan fisik akan kita potong. Sekarang sudah mulai dan sudah terkumpul sekian ratus miliar. Yang ada kita minta carry over atau tunda tahun depan. Jadi dari sisi likuiditas mungkin akan berkurang, tapi program tidak berkurang.

Sekian ratus miliar itu untuk apa saja?
Pasar yang belum berkontrak, survei, dan segala macam yang belum berkontrak akan kita tunda. Survei malah tidak perlu, biar menterinya saja.

Ada tidak Pak pesan Pak Jokowi di luar tentang rencana kerja?
Beliau cuma omong itu dan beliau bicara ke saya, tugas Pak Mentan menjaga kelangsungan hidup petani dan peternak. Maka artinya, koordinasilah dengan Mentan yang tupoksinya seperti itu. Itu harus kerja sama.Saya langsung menangkap itu.

Apa harapan Bapak terhadap sektor perdagangan Indonesia di tengah era keterbukaan perdagangan global?
Ada keseimbangan. Saya harus menyatakan kami pasar yang besar, tapi saya tidak mau negara dan rakyat saya semata-mata hanya dijadikan pasar dari hasil produksi negara-negara lain. Harus ada keseimbangan. Masing-masing negara ada kemandirian dan kedaulatan yang saling membutuhkan.

Kita tidak bisa hidup sendiri dan tidak bisa kita menolak bergabung dengan pakta perdagangan internasional atau kembali berdebat dengan WTO dan TPP. Tidak mungkin. Dunia ini sudah menjadi satu dan perdagangan sudah menjadi satu.

Namun, kita harus mencermati seluruh perjanjian ini dan kita harus terlibat penuh dalam negosiasi. Saya mendapat mandat menjadi pembantu Presiden dan akan saya lakukan dengan baik. (E-4)

-------------------------------------------

BIODATA

Nama: Enggartiasto Lukita
Lahir: Cirebon, 12 Oktober 1951
Jabatan: Menteri perdagangan (27 Juli 2016-sekarang)

Pendidikan
- Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FPBS IKIP Bandung (1969-1977)

Karier
- Direktur PT Supradinakarya Multijaya (1994-2004)
- Anggota DPR/MPR (1997-1999)
- Dirut PT Bangun Tjipta Pratama
- Dirut PT Kemang Pratama
- Dirut PT Kartika Karisma Indah
- Komisaris Utama PT Unicora Agung



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya