Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGALUNGI empat medali emas plus satu perunggu dari cabang olahraga senam jelas membuat Simone Biles menjadi pujaan di negaranya, Amerika Serikat.
Perayaan meriah dipastikan akan menyambut remaja 19 tahun tersebut.
Namun, sambutan lain yang mungkin kurang diharapkan juga akan menyambut kepulangannya ke 'Negeri Paman Sam'.
Atas semua hadiah kemenangan yang ia rengkuh, Biles harus menyisihkan setidaknya US$43.560 atau sekitar Rp573 juta untuk dibayarkan sebagai kewajiban pajak.
Jumlah itu telah memperhitungkan akumulasi hadiah serta kesepakatan dukungan yang didapatkannya, yang mencapai US$2 juta.
Ya, pajak kemenangan, itulah sambutan 'mengerikan' yang harus dihadapi para atlet peraih medali Olimpiade asal AS.
Pemerintah AS mewajibkan atlet membayarkan pajak atas hadiah yang mereka terima, termasuk atas medali Olimpiade mereka yang notabene dari logam mulia.
Berdasarkan kalkulasi Americans for Tax Reform, asosiasi yang menyuarakan reformasi pajak, juara pertama yang mengantongi emas ditambah uang tunai US$25 ribu harus membayar US$9.900 atau sekitar Rp130 juta.
Peraih perak dan perunggu masing-masing menggondol bonus US$15 ribu dan US$10 ribu dan kemudian berkewajiban meyetor US$5.940 atau Rp78 juta, dan US$3.960 atau Rp52 juta.
Nominal itu belumlah final. Bagi Simone Biles, atau Michael Phelps, atlet renang yang juga menjuarai beberapa kategori, pajak hadiah yang mesti dibayar lebih tinggi.
Phelps, yang diestimasi mendapat sekitar US$55 juta atau sekitar Rp723 miliar, harus membayar pajak US$55 ribu atau Rp723 juta.
Selama bertahun-tahun, politisi dan atlet AS berdebat apakah nominal pajak hadiah tersebut masuk akal.
Mengapa para atlet, yang telah berjuang demi bangsa, harus membayar atas kemenangan mereka?
"Pajak itu jelas tidak tepat sasaran dan tidak adil," tegas Direktur Eksekutif Cabang Luge Olimpik AS Jim Leahy.
Hal senada disampaikan Senator Chuck Schumer dari Partai Demokrat.
"Setelah kemenangan yang susah payah diraih, sangat tidak benar menyambut kepulangan mereka dengan pajak," ujarnya.
Untungnya, para atlet Indonesia tidak akan menghadapi sambutan semcam itu.
Pakar pajak Yustinus Prastowo mengatakan seperti di AS, hadiah pun dikenai pajak di Indonesia.
"Kalau pajak hadiah perlombaan memang kena pajak 15% dan itu bisa dikreditkan. Kalau hadiah undian, pajak final 25%," jelasnya.
Namun, lanjut Yustinus, dalam konteks membela Tanah Air seperti dilakukan para atlet di Olimpiade dan ajang perlombaan dunia lain, pajak itu akan ditanggung pemerintah.
"Jadi hadiah yang diterima atlet itu sudah nett. Tidak lagi dipotong pajak."
Pasangan ganda campuran bulu tangkis Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang meraih medali emas di Olimpiade 2016 Rio de Janeiro rencananya akan mengantongi bonus masing-masing Rp5 miliar.
Dengan perolehan medali itu, plus 2 medali perak dan juga memperhitungkan bonus bagi pelatih dan asisten pelatih yang mendampingi atlet bersangkutan, pemerintah Indonesia siap menggelontorkan Rp21 miliar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved