Reshuffle kian Dekat

MI/PUTRA ANANDA
10/8/2015 00:00
Reshuffle kian Dekat
(MI/PANCA SYURKANI)
HARAPAN berbagai kalangan, baik ekonom, peneliti, maupun pengusaha, agar Presiden Joko Widodo memberikan kepastian soal reshuffle kabinet menemukan titik terang. Dari hasil pertemuan Presiden dan pimpinan partai politik pendukung utama pemerintahan, Kamis (6/8) malam, terungkap bahwa perombakan kabinet dipastikan dilakukan dalam waktu dekat.

Perombakan kabinet, ungkap sejumlah sumber yang ikut dalam pertemuan tersebut maupun lingkaran dekat Istana, akan terkonsentrasi pada sektor ekonomi yang dinilai tidak optimal. "Presiden menyinggung perlu ada perombakan kabinet di bidang ekonomi. Kita mengetahui persoalan ekonomi menjadi fokus pemerintah yang perlu dibenahi," ungkapnya, kemarin.

Namun, menteri apa yang akan di-reshuffle dan kapan reshuffle dilakukan, Presiden tidak menyebutkannya dalam pertemuan itu. "Siapa yang di-reshuffle dan seperti apa, kita tidak membahas karena itu hak prerogatif Presiden. Beliau cuma bicara melihat situasi ekonomi seperti ini maka perlu dilakukan perombakan kabinet, khususnya di bidang ekonomi."

Sumber Media Indonesia menyebutkan perombakan yang dilakukan tidak sekadar mengganti, tapi juga menggeser menteri. "Pergeseran dilakukan karena yang bersangkutan dinilai lebih pas menempati posisi itu. Ada juga penyegaran di Komite Ekonomi Nasional (KEN)."

Perlambatan ekonomi yang terus berlangsung dibarengi dengan lambannya penyerapan anggaran disebut-sebut sebagai alasan reshuffle di bidang kementerian ekonomi mendesak dilakukan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2015 hanya 4,67%, turun jika dibandingkan dengan di kuartal pertama yang 4,72%.

Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi semester I 2015 baru mencapai 4,69%. Padahal, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi minimal 5,1%.

Selain angka-angka itu, sejumlah analis menyebutkan tidak maksimalnya koordinasi antarmenteri di bidang ekonomi membuat dukungan reshuffle kian kencang.

"Banyak kebijakan yang tidak sinkron sehingga berdampak negatif ke pasar," kata ekonom dari Bank Central Asia David Sumual.

"Secara umum, tim ekonomi lemah dalam melakukan koordinasi. Padahal, koordinasi penting di tengah peliknya persoalan ekonomi," timpal Ketua Apindo Anton J Supit.

Jaga konsumsi
Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Suharso Monoarfa menyatakan pihaknya siap memberikan masukan bila dimintai pertimbangan soal kabinet. "Namun, sejauh ini belum," ujar Suharso saat dihubungi, kemarin.

Meski demikian, Suharso mengakui sulit memberikan penilaian terhadap kinerja menteri-menteri bidang perekonomian dalam situasi saat ini. "Sejauh ini faktor eksternal memainkan peran yang dominan terkait perlambatan."

Ia menjelaskan investasi jangka pendek serta permintaan global yang menurun berpengaruh terhadap neraca modal dan defisit transaksi berjalan. "Tapi ada satu keberuntungan, yakni konsumsi cukup kuat dan PDB kita mayoritas didominasi konsumsi."

BPS mencatat komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga masih tumbuh 4,99%. Guna memperbaiki pertumbuhan, Suharso meminta pemerintah menjaga konsumsi dalam negeri dan menggenjot belanja. (Wib/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya