MANTAN Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mengatakan posisi sektor ekonomi kreatif akan menjadi semakin penting bagi masa depan perekonomian Indonesia.
"Ekonomi kreatif ialah kekuatan baru ekonomi Indonesia untuk menjawab tantangan globalisasi dan mencapai pembangunan berkelanjutan," ujar Mari dalam pidato saat dikukuhkan menjadi Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) di Depok, Jawa Barat, kemarin.
Dalam pidato yang berjudul Globalisasi, Kekuatan Ekonomi Baru dan Pembangunan Berkelanjutan: Implikasi bagi Indonesia, Mari memandang bangsa ini membutuhkan diversifikasi sumber kekuatan baru sebagai sumber pembangunan ekonomi dengan tetap mempertahankan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development). "Potensi terbesar itu ada pada ekonomi kreatif," imbuh Mari yang juga mantan Menteri Perdagangan itu.
Perlambatan pertumbuhan dunia yang tengah terjadi bukan hanya disebabkan siklus ekonomi semata, melainkan juga disebabkan telah berakhirnya booming komoditas. Karena itu, menurut Mari, di bidang ekspor negara, Indonesia harus memupuk sumber daya saing dan membangun sumber pertumbuhan baru.
"Indonesia membutuhkan pendekatan baru dalam membangun daya saing. Sebab, pendekatan industrialisasi melalui penguatan hulu ke hilir seperti selama ini sudah tidak cukup lagi," jelas istri Adi Harsono dan ibu dua putra Raymond Bima dan Alexander Arya itu.
Mari, yang mengajar di FEB UI sejak 1986, menggambarkan daya saing sudah tidak lagi diukur dari biaya produksi, seperti upah tenaga kerja murah dan keberadaan bahan baku, tapi juga oleh sektor lain, seperti jasa logistik yang efisien.
Kreativitas Pendekatan terbaru ilmu ekonomi yang mengandalkan modal dan teknologi bukan satu-satunya untuk mempertahankan daya saing dan pertumbuhan ekonomi. Kini, dibutuhkan kreativitas, ide kreatif, dan inovatif.
"Implikasinya, kita tahu pendekatan pembangunan mulai beralih dari basis teknologi informasi dan pengetahuan ke basis kreativitas dan inovasi atau dikenal sebagai ekonomi gelombang keempat," tuturnya.
Ia pun mengungkapkan, sesungguhnya esensi ekonomi kreatif ialah menjamin pemilik ide kreatif agar bisa memperoleh manfaat ekonomi, keuntungan yang layak dari kreativitas, dan menjadi stimulus munculnya ide-ide baru yang lain.
Dari data yang ada, ekonomi kreatif yang terdiri atas 15 industri kreatif telah berhasil memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB, yaitu mencapai 7%. Bahkan, pada 2014, ekonomi kreatif berhasil tumbuh lebih tinggi ketimbang pertumbuhan ekonomi nasional.
Lebih lanjut, Mari menawarkan suatu model holistis pengembangan ekonomi kreatif yang menjadi pertemuan kreativitas, modal budaya, sosial, dan ekonomi yang mampu menjawab isu strategis yang dihadapi.
"Dari sisi input modal utama pengembangan ekonomi kreatif, 50% penduduk usia produktif harus didorong kreativitasnya lewat pendidikan formal, nonformal, dan pengembangan talenta," paparnya.
Modal lain, sambung Mari, ialah pemanfaatan sumber warisan budaya dan keragaman hayati yang melimpah. Untuk menggarap potensi itu secara optimal, pemerintah perlu meningkatkan akses pasar dan dukungan finansial. (N-2)