Neraca Pembayaran di Zona Hijau

Dero Iqbal Mahendra
15/8/2016 10:55
Neraca Pembayaran di Zona Hijau
(MI/Galih Pradipta)

SURPLUS neraca pembayaran Indonesia (NPI) kembali ke teritorium positif pada kuartal II 2016. Performa itu diprediksi bakal berlanjut selama sisa tahun ini.

Dari laporan Bank Indonesia (BI), akhir pekan lalu, NPI mencetak surplus US$2,2 miliar pada kuartal lalu setelah pada kuartal I 2016 mengalami defi sit US$0,3 miliar.

NPI merupakan indikator yang mengukur transaksi ekonomi antara penduduk Indonesia dan penduduk negara lain, yang terdiri atas transaksi berjalan, transaksi modal, dan transaksi fi nansial.

"Surplus di kuartal II 2016 itu karena paling besar di transaksi modal dan finansial. Kami masih meihat hal itu akan terus berjalan di sepanjang 2016," kata Gubernur BI, Agus Martowardojo, di Batam, Jumat (12/8).

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara, surplus NPI pada kuartal lalu memperlihatkan keseimbangan eksternal perekonomian yang membaik. Surplus NPI ditopang surplus transaksi modal dan fi nansial yang mencapai US$7,4 miliar. Jumlah itu meningkat dari capaian pada kuartal sebelumnya.

"Ini ditopang aliran masuk modal investasi portofolio. Aliran masuk modal investasi portofolio neto yang meningkat signifikan mencapai US$8,4 miliar pada triwulan II," ujar Tirta.

Meningkatnya investasi portofolio sebagian besar disebabkan penerbitan obligasi global pemerintah dan dana investor asing yang melakukan pembelian di pasar saham serta pasar surat berharga negara rupiah.

Faktor lain pendorong surplus NPI ialah melandainya defisit transaksi berjalan menjadi US$4,7 miliar atau setara kurang lebih 2% dari produk domestik bruto. Pada kuartal I 2016, defisit transaksi berjalan US$4 miliar atau 2,2% terhadap PDB.

"Penurunan defi sit transaksi berjalan karena kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas akibat peningkatan ekspor nonmigas yang lebih besar daripada peningkatan impor nonmigas," papar Tirta.

Sementara itu, neraca perdagangan migas masih tercatat defisit karena meningkatnya harga minyak dunia. "Defisit neraca jasa juga meningkat mengikuti pola musiman surplus neraca jasa perjalanan yang rendah pada triwulan laporan."

Prospektif
Dalam mengomentari performa NPI, ekonom senior Destry Damayanti juga optimistis tren positif akan terus berlanjut. "Impor memang belum akan tumbuh cepat. Sementara itu, pada ekspor, harga komoditas mulai naik karena suplai terbatas. Misalnya, Tiongkok mulai mengurangi produksi batu bara, kemudian CPO (minyak sawit mentah) harganya juga stabil," paparnya saat dihubungi, kemarin (Minggu, 14/8).

Meski kinerja neraca perdagangan luar negeri diprediksi Destry masih surplus dan akan memengaruhi defisit transaksi berjalan, ia melihat neraca jasa masih akan defisit.

"Jadi, saya rasa peluang untuk perbaikan itu, paling tidak (defisit neraca transaksi berjalan) stabil di level yang sekarang, di antara 2,1%-2,3% dari PDB," jelasnya.

Perihal neraca transaksi modal dan fi nansial, Destry mengatakan prospeknya masih bagus lantaran hingga Agustus ini jumlah aliran kapital yang masuk ke dalam negeri sangat luar biasa, sekitar Rp140 triliun. Program amnesti pajak, lanjutnya, juga akan turut memberikan pengaruh besar terhadap kinerja neraca itu.

Ia mewanti-wanti pemerintah agar menjaga konsistensi kebijakan saat ini. Meski mungkin ada risiko terkait dengan pemotongan bujet pemerintah, pengeluaran lain seperti konsumsi masyarakat dan investasi swasta, dinilai Destry, akan membaik pada semester kedua.

"Dengan adanya paket kebijakan, pemerintah bisa menciptakan kepercayaan diri investor. Secara keseluruhan pertumbuhan 5,1% bisa dicapai."(Ant/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya