Tidak Kenal maka tidak Sayang

MI
15/8/2016 10:50
Tidak Kenal maka tidak Sayang
(ANTARA/Rosa Panggabean)

PERDAGANGAN Berjangka Komoditas (PBK) semestinya memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Namun, sayangnya, di Indonesia, PBK primer dengan mekanisme transaksi multilateral, walaupun menunjukkan adanya pertumbuhan dari tahun ke tahun, belum terlalu berkembang.

"Ini terlihat dari masih sedikitnya perdagangan kontrak berjangka transaksi multilateral di bursa berjangka bila dibandingkan dengan kontrak SPA (sistem perdagangan alternatif)," ujar Kepala Biro Pengawasan Pasar Berjangka dan Fisik Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan Pantas Lumban Batu di Yogyakarta, akhir pekan lalu.

Pada semester I 2016, tercatat transaksi kontrak berjangka mencapai 3.593.142 lot. Jumlah itu meningkat 15,99% dari periode sama tahun sebelumnya, yakni dari 3.097.707 lot.

Transaksi multilateral baru 719.663 lot, atau naik 24,22% dari semester awal 2105 yang hanya 579.342 lot. "Kontrak multilateral yang paling diminati selama semester I tahun ini ialah CPO, kopi, emas, olein, dan kakao," ujar Pantas.

Ia mengakui performa tersebut masih perlu dikerek, apalagi dengan berlimpahnya kekayaan komoditas di Indonesia, seperti minyak sawit (CPO), kopi, kakao, karet, batu bara, dan timah. Artinya, masih besar potensi yang perlu digali.

Untuk meningkatkan minat masyarakat dalam dunia PBK, pihaknya melakukan beberapa pendekatan, misalnya, dengan kegiatan edukasi bagi publik maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia di bursa.

Yang tidak kalah penting, lanjut Pantas, PBK harus mampu memprediksi kebutuhan lindung nilai dunia usaha di masa mendatang. Dengan begitu, Indonesia kelak bisa menjadi acuan dalam penetapan harga komoditas di pasar internasional.

Upaya lain untuk menggairahkan aktivitas bursa berjangka ialah dengan mempermudah perizinan. "Saat ini ada 10 permohonan perizinan dan persetujuan yang telah terkoneksi dengan sistem Intrade Kemendag dan dapat diurus secara daring," kata Kepala Bappebti Bachrul Chairi.

Saat ini di Indonesia terdapat dua bursa berjangka, dua lembaga kliring berjangka, enam bank penyimpanan margin, 67 pialang berjangka, serta 2.429 wakil pialang berjangka.(Pra/Ant/e-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya