Sopir, Profesi Paling Berbahaya di Dunia

Andhika Prasetyo
12/8/2016 15:08
Sopir, Profesi Paling Berbahaya di Dunia
(Ilustrasi)

JIKA Anda berpikir pembalap yang kerap menantang kecepatan atau astronaut yang hidup melawan gravitasi di luar angkasa adalah profesi yang paling membahayakan, jelas Anda salah.

CareerCast, sebuah situs pencari kerja di wilayah Benua Amerika bagian utara, mengumumkan bahwa pengemudi, petani, dan pekerja konstruksi adalah tiga profesi teratas yang memiliki potensi paling berbahaya.

“Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyebab kematian yang paling utama dalam lingkungan kerja,” ujar editor konten daring CareerCast.com Kyle Kensing, Kamis (11/8).

Adapun, kecelakaan kerja juga kerap menimpa kepada para petani dan pekerja konstruksi yang memang tidak dibekali dengan sistem pengamanan yang mumpuni.

“Itu membuat mereka sangat rentan mengalami kecelakaan,” tutur Kensing.

Selain tiga profesi yang sudah disebutkan, Kensing menambahkan profesi yang berhubungan dengan keamanan seperti polisi dan pemadam kebakaran, melengkapi daftar lima posisi teratas.

Kendati demikian, ungkap Kensing, semua pekerjaan itu tidak pernah kekurangan peminat.

“Semua pekerjaan itu memberikan dampak positif kepada kehidupan sosial. Mereka paham akan risiko yang dihadapi,” lanjutnya.

“Bagi mereka yang memilih jalan karier itu, mungkin duduk di depan komputer adalah hal yang sangat tidak mengasyikkan.”

Dalam melakukan penelitian, CareerCast menggunakan data yang telah mereka kumpulkan dan digabungkan dengan data milik U.S. Bureau of Labor Statistics.

“Sangat mengejutkan memang mengetahui profesi-profesi yang paling berbahaya ternyata kita jumpai setiap hari, di tempat-tempat yang juga tidak asing,” sambung Kensing.

Di sisi sebaliknya, orang-orang yang berkarier di bidang teknologi informasi adalah mereka yang sangat jauh dari marabahaya.

“Selain itu, akuntan dan ahli statistik juga masuk ke daftar aman lainnya,” tambah editor tersebut.

Kensing juga mengungkapkan data yang telah dipublikasikan tersebut akan terus dilengkapi dengan faktor-faktor lain seperti masalah kesehatan para pekerja.

Pekerja kantoran contohnya. Kensing mengatakan, saat ini, pihaknya belum memiliki banyak data terkait isu kesehatan mereka.

“Mungkin saja terlalu banyak duduk juga dapat berbahaya dan memicu kematian,” imbuhnya.

Ia mengatakan dalam penelitian lanjutan yang akan dilaksanakan nanti, faktor yang lebih kompleks seperti aktivitas fisik yang minim, perjalanan, kebisingan serta polusi udara akan dilibatkan sebagai penentu-penentu lainnya.

“Kita akan tampung semua kemungkinan.” (CNBC/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya