Genjot Stimulus Ekonomi

Fathia Nurul Haq
06/8/2015 00:00
Genjot Stimulus Ekonomi
(Sumber: BPS/L-1/Grafis: Ebet)

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia selama semester I 2015 hanya tercapai 4,7% atau melemah jika dibandingkan dengan pertumbuhan semester I 2014 yang mencapai 5,17%.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat capaian ekonomi pada triwulan II 2015 hanya 4,67%, melambat jika dibandingkan dengan triwulan II 2014 sebesar 5,03% dan triwulan I-2015 yang tumbuh 4,72%.

"Dari triwulan ke triwulan sejak 2011 memang terjadi perlambatan. Triwulan II 2015 tumbuh 3,78%, sedikit di bawah 2014 3,83 %," jelas kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di Jakarta, kemarin.

Kontraksi ekonomi Indonesia yang mengarah resesi ini tidak luput dari melemahnya pertumbuhan ekonomi negara lain, terutama tiga mitra dagang terbesar Indonesia, yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, dan Singapura.

"Perlambatan yang dialami negara-negara lain itu jelas imbasnya ke negara kita," jelas Suryamin.

Dampak itu secara nyata terlihat di kinerja ekspor dan impor.

BPS mencatat pertumbuhan ekspor Indonesia pada kuartal II -0,13%. Padahal, ekspor merupakan penyumbang produk domestik bruto (PDB) terbesar ketiga setelah konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dengan andil 21,63%.

Impor juga terkoreksi lebih dalam lagi dengan pertumbuhan -6,85%. Akibatnya, impor malah menjadi variabel pengurang pada PDB dengan distribusi -21,41%.

Dengan mendapati fakta melambatnya ekonomi Tanah Air, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengaku kaget.

"Ya, tentu kita cukup kaget juga, kita mengharapkan sudah bottom up ternyata belum. Karena kondisi eksternal masih seperti dulu, bahkan memburuk dengan melemahnya harga-harga komoditas," ujarnya di Istana Bogor, kemarin.

Dalam melihat perlambatan ekonomi Tanah Air ini, pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasetyantono menduga hal ini akibat minimnya stimulus fiskal dan kurangnya momentum yang memacu pertumbuhan.

"Tidak ada stimulus fiskal yang berarti. Memang ada Ramadan di akhir triwulan II, tapi tidak banyak menolong," katanya, kemarin.

Tony pun pesimistis pemerintah bisa membalikkan keadaan untuk mencapai pertumbuhan sesuai target 5,7%.

Optimistis

Jika kalangan pengamat pesimistis, Presiden Joko Widodo justru meyakini pertumbuhan ekonomi akan meroket pada semester dua tahun ini. Ia pun sudah memperkirakan pada semester I 2015 hanya akan tumbuh 4,7%.

Pemerintah akan mengandalkan tingkat serapan anggaran pada semester II ini.

"Mulai agak meroket September-Oktober. Nah, pada November angkanya itu bisa begini," kata Jokowi sambil menjulurkan tangannya ke langit.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan upaya yang dilakukan untuk menggenjot pertumbuhan melalui belanja pemerintah dan investasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Ia mengklaim, hingga akhir tahun belanja modal pemerintah bisa mencapai 80%.

Total belanja kementerian dan lembaga hingga 31 Juli 2015 ialah Rp261 triliun atau baru terealisasi 32,8% dari pagu APBNP.

Kementerian Perhubungan dan Kementerian Desa, PDT, dan Transmigrasi tercatat paling rendah membelanjakan anggarannya, masing-masing baru 11,3% dari pagu Rp7,3 triliun dan 2,6% dari pagu Rp200 miliar.

(Wib/X-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya