PENINGKATAN konsumsi listrik seiring dengan bertambahnya populasi dan perkembangan industri harus diimbangi dengan naiknya pasokan listrik yang stabil dan efisien. Pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pun dianggap salah satu solusi untuk menjamin pemenuhan kebutuhan listrik nasional jangka panjang.
"Prinsipnya kita setuju PLTN dan memang harus dipikirkan sebab negara maju juga menggunakan nuklir. Dengan pertimbangan semua jenis pembangkit memiliki tingkat risiko masing-masing," terang Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani kepada Media Indonesia, kemarin.
Menurutnya, pemerintah harus mempertimbangkan pengembangan PLTN untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan sektor industri untuk ke depannya. "Mau tidak mau kita memang harus menggunakan nuklir. Kalau ingin meningkatkan efisiensi industri, akan ke sana arahnya. Dengan melimpahnya energi listrik, industri akan meningkatkan daya saing produk."
Meski sangat mahal di awalnya, lanjut Hariyadi, pengembangan PLTN dalam jangka panjang akan lebih efisien karena memberi stabilitas dan konsistensi suplai energi yang baik jika dibandingkan dengan jenis pembangkit lainnya. "Terkait dengan kekhawatiran risiko kebocoran reaktor dan sisa limbah radioaktif, dengan teknologi terkini itu dapat diminimalkan," paparnya.
Ia membandingkan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan penambangan batu bara secara besar-besaran yang jauh lebih masif daripada penggunaan nuklir. "Pemerintah harus memperhatikan bauran energi ke depan dengan mempertimbangkan keuntungan dan kerugian dari pembangkit jenis tertentu," ucapnya.
Vietnam gandeng Rusia Di saat Indonesia masih berkutat dengan pro-kontra pembangunan PLTN, negara tetangga, Vietnam, sudah selangkah lebih maju. Perusahaan listrik Vietnam, EVN, sudah menandatangani kerja sama membangun satu unit PLTN di Provinsi Nin Thuan dengan BUMN nuklir, Rosatom.
"Bersama mitra dari Vietnam, kami membangun generasi PLTN yang paling efisien yang memenuhi standar kualitas dan keamanan internasional," ujar Direktur Umum Divisi Rekayasa dan Konstruksi Rosatom Valery Limarenko seperti dilansir Worldnuclearnews.org, akhir pekan lalu.
'Negeri Paman Ho' itu bakal memakai reaktor Rosatom, AES 2006, yang akan meningkatkan kapasitas listrik hingga 1.200 megawatt (Mw) dari reaktor awal jenis VVVER-1000 yang hanya berdaya 800 Mw. Dari PLTN yang akan dibangun pada 2017 itu Vietnam menargetkan tambahan tiga unit lain dalam 15 tahun ke depan sehingga Vietnam bakal memiliki kapasitas listrik antara 4.800 Mw dan 7.100 Mw pada 2030.
Badan Informasi Energi Amertika Serikat bahkan memproyeksi Vietnam bakal meningkatkan kapasitas listrik nasional dari 42 gigawatt (Gw) menjadi 140 Gw pada 2030, dengan 8% di antaranya berasal dari listrik nuklir.