Perlu Power Plant Efisien Agar Natuna Segera Benderang

Fario Untung
09/8/2016 12:54
Perlu Power Plant Efisien Agar Natuna Segera Benderang
(Ekonom dan peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM Fahmi Radhi -- MI/Atet Dwi Pramadia)

PEMERINTAH melalui Kementerian Koordinator Kemaritiman mengajak investor untuk menanamkan uang di Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau. Namun, ajakan itu bisa tidak bersambut lantaran Natuna saat ini masih minim infrastruktur, terutama listrik.

Ekonom dan peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM Fahmi Radhi melalui keterangan resmi, Senin (8/8), mengemukakan dengan model wilayah kepulauan, masing-masing daerah punya potensi energi pembangkit yang berbeda-beda. Di Natuna, ada potensi gas besar yang dapat dipakai untuk sumber pembangkit.

Menurutnya, agar maksimal, perlu dipilih teknologi pembangkit listrik yang tidak memerlukan pengerjaan lama. Salah satu caranya, bisa dibangun mini terminal LNG agar potensi besar gas bisa terserap dengan baik. Apalagi pemerintah sedang mengembangkan program tol laut dan sektor maritim.

Model mini terminal LNG sangat cocok dikembangkan di Indonesia karena sesuai kondisi geografis negara kepulauan. Selain itu, pengembangan mini terminal LNG juga tidak butuh waktu lama. Penggunaan gas juga akan menghemat keuangan negara.

Selain mini terminal LNG, juga perlu fasilitas pembangkit terapung.

"Kelebihan fasilitas terapung dapat lebih menjamin dan menjaga kelangsungan supply di saat gempa bumi/banjir sekalipun. Kerena dua hal ini juga merupakan kejadian alam yang cukup akrab dengan negara kita," tegas Fahmi.

Sementara itu, ekonom Enny Sri Hartati mengemukakan Natuna punya cadangan gas berlimpah. Dia berharap, nantinya gas itu menjadi sumber energi utama untuk pembangkit listrik di Natuna. Sudah saatnya, Pemerintah tidak lagi bergantu pada bahan bakar minyak.

Data menunjukkan, banyak potensi ekonomi yang bisa dikembangkan di Natuna.

"Di Natuna itu punya sumber daya komoditas strategis, seperti perikanan, sehingga juga harus didukung oleh ketersediaan infrastruktur energi, dalam hal ini listrik," ujar Enny.

Jika pemerintah hendak mendorong investasi ke Natuna, sudah seharusnya infrastruktur untuk menunjang potensi gas yang besar di Natuna disiapkan. Termasuk menyiapkan teknologi power plant yang paling efisien.

"Harus dipilih juga pembangkit listrik yang paling cepat dan efisien di sana, sekaligus mampu memanfaatkan potensi gas yang masih sangat besar," ujar Enny.

Selain minyak bumi, wilayah Natuna disebut-sebut menyimpan cadangan gas alam terbesar di dunia. Misal Blok Natuna D-Alpha, yang menyimpan cadangan gas dengan volume 222 triliun kaki kubik (TCT). Cadangan itu tidak akan habis hingga 30 tahun mendatang.

Sementara itu, potensi gas yang recoverable di Natuna sebesar 46 tcf (triliun cubic feet) atau setara dengan 8,383 miliar barel minyak. Jika digabung dengan minyak bumi, terdapat sekitar 500 juta barel cadangan energi hanya di blok tersebut. Jika diuangkan kekayaan gas Natuna mencapai Rp 6.000 triliun alias 3 kali lipat APBN saat ini. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya