Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
GAJI dalam jumlah fantastis ditambah fasilitas melimpah ruah ternyata tidak menjamin kualitas kerja seorang pemimpin perusahaan (chief executive officer/CEO). Bisa jadi mereka malah terlena dan mengabaikan performa lantaran sudah memperoleh apa yang dibutuhkan.
Demikian hasil laporan teranyar dari MSCI yang telah mempelajari 429 perusahaan terkemuka di Amerika Serikat selama satu dekade terakhir. Itu mengejutkan memang. Kinerja para petinggi perusahaan yang notabene berkantong tebal cenderung lebih buruk ketimbang para pekerja bergaji pas-pasan.
Dengan penuh ketegasan, laporan itu menyatakan gaji tinggi CEO tidak selalu merefleksikan integritas dan kinerja jangka panjang. Tren itu bahkan terjadi pada multisektor.
Masih dari laporan yang sama, diketahui, para pemegang saham menerima keuntungan 39% lebih tinggi ketika porsi gaji CEO kurang dari 20% dari total belanja perusahaan. Kondisi berbeda terjadi ketika besar gaji CEO melampaui 20%.
MSCI memandang tidak ada dampak signifikan sekalipun para petinggi perusahaan menerima kompensasi lebih besar, misalnya dalam bentuk insentif saham perusahaan. Rata-rata 70% gaji tahunan yang diperoleh para CEO bersumber dari insentif saham.
Lantas, apa yang harus dilakukan perusahaan untuk memperbaiki kinerja para pemimpin dengan gaji fantastis? MSCI menyarankan agar korporasi mulai membuat laporan gaji kumulatif CEO sepanjang masa jabatan, bukan hanya gaji tahunan. Akan lebih baik bila korporasi memantau dan melakukan evaluasi berkala agar progres sepak terjang sang CEO tidak mengkhianati harapan.
"Kami melihat kurang terintegrasinya hasil laporan yang terlalu fokus pada gejolak harga saham di jangka pendek malah akan mengganggu efek kinerja jangka panjang," jelas peneliti MSCI sebagaimana dikutip dalam laman CNN.com, Senin (1/8).
Salah satu contoh yang disoroti MSCI ialah kegagalan Marissa Mayer dalam membangkitkan Yahoo dari keterpurukan. Kegagalan CEO berusia 41 itu berujung pada pengambilalihan Yahoo oleh operator telekomunikasi Verizon dengan nilai US$4,8 miliar.
Selama Mayer memimpin Yahoo dalam kurun empat tahun, total pendapatannya diperkirakan menembus US$219 juta atau setara Rp2,8 triliun.
Para petinggi Yahoo sempat menaruh harapan besar di pundak Mayer yang sebelumnya memiliki rekam jejak cemerlang di Google. Ketika Mayer masuk ke Yahoo pun harga saham salah satu platform laman terbesar di dunia itu sempat melonjak.
Namun, bayaran fantastis Mayer ternyata tidak membuahkan hasil setimpal bagi Yahoo. Mayer barangkali menjadi bukti nyata bahwa limpahan materi bagi sang pemimpin perusahaan tidak serta-merta menjamin kinerjanya akan sesuai dengan harapan.(Tes/E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved