Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
TEKANAN yang dirasakan industri perusahaan pembiayaan (multifinance) mulai tahun lalu masih terus berlanjut. Alhasil, pelaku industri multifinance enggan memasang target pertumbuhan muluk-muluk.
"Tekanan masih berat. Kalaupun tumbuh, sangat kecil, ya maksimal 3%-lah," ujar Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno saat dihubungi Media Indonesia, kemarin (Minggu, 7/8).
Kendati perekonomian nasional mulai membaik pada kuartal II dengan tumbuh di atas 5%, APPI menilai dampaknya terhadap industri multifinance belum akan signifikan pada sisa tahun ini.
Sasaran strategis pasar multifinance, yakni penjualan kendaraan roda dua dan roda empat, ditengarai relatif stagnan.
Menurut Suwandi, lemahnya penjualan kendaraan bermotor disebabkan daya beli masyarakat masih terbatas. Apalagi, masyarakat golongan menengah ke bawah sempat terguncang oleh fenomena PHK. Sementara itu, masyarakat kelas menengah ke atas sedang tenggelam pada euforia amnesti pajak.
"Daya beli masyarakat yang turun ini tentu berdampak pada kinerja industri pembiayaan itu sendiri. Masyarakat cenderung enggan membeli kendaraan bermotor yang jadi salah satu parameter industri pembiayaan," urainya.
Sebagai gambaran, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan kendaraan roda empat selama Januari-Mei 2016 baru 438 ribu unit, atau 41,7% dari target 1,05 juta unit pada tahun ini.
Di sisi lain, Suwandi melihat sebagian dunia usaha juga masih dalam tekanan, terutama sektor komoditas. "Ya namanya bisnis itu memang ada up and down. Sebelumnya kita hampir 10 tahun tumbuh 20%-23%. Kalau sekarang sedang turun, kita bertahan, jaga portofolio tetap sehat."
Menurut laporan Biro Riset Infobank terhadap 173 perusahaan pembiayaan pada 2015, sekitar 61,27% mencatat penurunan laba bersih, sedangkan 20,23% merugi. Alhasil, alih-alih tumbuh, industri multifinance nasional pada tahun lalu menciut 0,02%.
Ketergantungan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengingatkan pelaku industri multifinance agar tidak terus menggantungkan pertumbuhan kepada pasar kendaraan otomotif. Mereka disarankan merambah sektor UMKM, utamanya membiayai modal kerja dan investasi.
"Dua tahun lalu, kita sudah antisipasi pembiayaan kendaraan pada saatnya akan berat karena itu tergantung sektor riil dan level income yang sangat rentan terhadap situasi ekonomi," ujar Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Nonbank II OJK, Dumoly F Pardede, via pesan singkat, kemarin.
Dumoly menambahkan, berbagai kebijakan pemerintah di sektor investasi infrastruktur berikut kegiatan BUMN akan memacu pertumbuhan multifinance yang menggeluti investasi dan modal kerja.
"Kebijakan kredit usaha rakyat dan subsidi lainnya sudah pasti akan mendorong pertumbuhan (perusahaan pembiayaan/PP) di sektor multiguna. PP juga seharusnya memperkuat jalur promosi dan marketing, termasuk kapasitas SDM untuk portofolio itu," urainya.
Dari pemantauan OJK, sedikitnya ada 10 multifinance yang tumbuh positif lantaran menggarap sektor UMKM, antara lain Homecredit, Indosurya Finance, Pro Car, dan Federal International Finance (FIF).
"Mari kita dorong PP masuk ke UMKM dan infrastruktur yang pertumbuhannya dikomandoi pemerintah. Untuk mengisi gap pembiayaan, PP bisa masuk ke situ," pungkas Dumoly.(E-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved