Tekanan Industri Multifinance Masih Berlanjut di 2016

Tesa Oktiana Surbakti
07/8/2016 01:03
Tekanan Industri Multifinance Masih Berlanjut di 2016
()

KONDISI industri perusahaan pembiayaan (multifinance) pada 2015 mendapat sinyal merah. Tekanan berat diperkirakan masih akan terus berlanjut pada 2016. Tidak mau terlalu muluk, pelaku industri pembiayaan memprediksi pertumbuhan hanya berkisar 1-2% yang berarti flat.

"Tekanan masih berat. Kalaupun bisa tumbuh, sangat kecil paling 1-2%, ya maksimal 3% lah," ujar Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno saat dihubungi, Sabtu (6/8).

Meskipun harga komoditas nonmigas mulai mengalami peningkatan berikut pertumbuhan ekonomi kumulatif di semester I telah mencapai 5,04%, APPI menilai kondisi industri multifinance tidak akan bertumbuh signifikan di tahun ini.

Pasalnya, sasaran strategis pasar multifinance, yakni penjualan kendaraan roda dua dan roda empat, ditengarai relatif stagnan.

Menurutnya, turunnya penjualan kendaraan bermotor disebabkan daya beli masyarakat yang masih rendah. Apalagi, masyarakat golongan menengah ke bawah sempat terguncang fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK). Sedangkan masyarakat kelas menengah ke atas sedang tenggelam pada euforia pengampunan pajak (tax amnesty).

"Daya beli masyarakat yang turun itu tentunya akan berdampak pada penurunan kinerja industri pembiayaan itu sendiri. Karena masyarakat cenderung enggan membeli kendaraan bermotor yang menjadi salah satu parameter industri pembiayaan," urainya.

Di satu sisi, dia memandang sumber pendorong lainnya, yakni dunia usaha juga masih mengalami tekanan berat. Ambil contoh industri berbasis komoditas, seperti mineral dan batubara (minerba) dan kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO).

Mengutip laporan dari Biro Riset Infobank terhadap 173 perusahaan pembiayaan pada 2015, sebanyak 106 perusahaan atau 61,27% mengalami penurunan laba bersih dan 35 perusahaan atau 20,23% mengalami kerugian.

Pun pertumbuhan industri multifinance nasional turun 0,02%. Perusahaan multifinance yang banyak mengalami penurunan laba maupun kerugian adalah perusahaan di kelompok asset di bawah Rp1 triliun (papan bawah).

Suwandi mengatakan perusahaan sebenarnya tetap menjaga keberlangsungan dari sisi portofolio yang sehat agar tidak semakin terpuruk.

"Ya namanya bisnis itu kan ada up and down. Sebelumnya kita hampir sepuluh tahun alami peningkatan 20-23%, kalau sekarang sedang turun tidak apa-apa. Yang jelas kita bertahan, jaga portofolio yang sehat. Kalaupun rugi jangan terlalu besar," pungkasnya.

Di satu sisi, kalangan industrialis multifinance dikatakannya optimistis situasi akan kembali membaik pada 2017 mendatang. Suwandi turut berharap pemangku kepentingan terkait, dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat menerbitkan regulasi atau kebijakan dalam koridor menjaga industri keuangan agar tetap bertumbuh positif. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya